Minggu, 24 November 2013

Membalas Perbuatan Raja

Abu Nawas hanya tertunduk sedih mendengarkan penuturan istrinya. Tadi pagi beberapa pekerja kerajaan atas titan langsung Baginda Raja membongkar rumah dan terus menggali tanpa bisa dicegah. Kata mereka tadi malam Baginda bermimpi bahwa di bawah rumah Abu Nawas terpendam emas dan permata yang tak ternilai harganya. Tetapi setelah mereka terus menggali ternyata emas dan permata itu tidak ditemukan. Dan Baginda juga tidak meminta maaf kepada Abu Nawas. Apabila mengganti  kerugian. inilah yang membuat Abu Nawas memendam dendam.
Lama Abu Nawas memeras otak, namun  belum juga ia menemukan muslihat untuk membalas Baginda. Makanan yang dihidangkan oleh istrinya tidak dimakan karena nafsu makannya lenyap. Malam pun tiba, namun Abu Nawas tetap tidak beranjak. Keesokan hari Abu Nawas melihat lalat-lalat mulai menyerbu makanan Abu Nawas yang sudah basi. la tiba-tiba tertawa riang.
"Tolong ambilkan kain penutup untuk makananku dan sebatang besi." Abu Nawas berkata kepada istrinya.
 "Untuk apa?" tanya istrinya heran. 
"Membalas Baginda Raja." kata Abu Nawas singkat. Dengan muka berseri-seri Abu Nawas berangkat menuju istana. Setiba di istana Abu Nawas membungkuk hormat dan berkata,
"Ampun Tuanku, hamba menghadap Tuanku Baginda hanya untuk mengadukan perlakuan tamu-tamu yang tidak diundang. Mereka memasuki rumah hamba tanpa ijin dari hamba dan berani memakan makanan hamba."
"Siapakah tamu-tamu yang tidak diundang itu wahai Abu Nawas?" sergap Baginda kasar.
"Lalat-lalat ini, Tuanku." kata Abu Nawas sambil membuka penutup piringnya.
"Kepada siapa lagi kalau bukan kepada Baginda junjungan hamba, hamba me-ngadukan perlakuan yang tidak adil ini."
"Lalu keadilan yang bagaimana yang engkau inginkan dariku?" 
"Hamba hanya menginginkan ijin tertulis dari Baginda sendiri agar hamba bisa dengan leluasa menghukum lalat-lalat itu." Baginda Raja tidak bisa mengelakkan diri menotak permintaan Abu Nawas karena pada saat itu para menteri sedang berkumpul di istana. Maka dengan terpaksa Baginda membuat surat ijin yang isinya memperkenankan Abu Nawas memukul lalat-lalat itu di manapun mereka hinggap.
Tanpa menunggu perintah Abu Nawas mulai mengusir lalat-lalat di piringnya hingga mereka terbang dan hinggap di sana sini. Dengan tongkat besi yang sudah sejak tadi dibawanya dari rumah, Abu Nawas mulai mengejar dan memukuli lalat-lalat itu. Ada yang hinggap di kaca.
Abu Nawas dengan leluasa memukul kaca itu hingga hancur, kemudian vas bunga yang indah, kemudian giliran patung hias sehingga sebagian dari istana dan perabotannya remuk diterjang tongkat besi Abu Nawas. Bahkan Abu Nawas tidak merasa malu memukul lalat yang kebetulan hinggap di tempayan Baginda Raja.
Baginda Raja tidak bisa berbuat apa-apa kecuali menyadari kekeliruan yang telah dilakukan terhadap Abu Nawas dan keluarganya. Dan setelah merasa puas, Abu Nawas mohon diri. Barang-barang kesayangan Baginda banyak yang hancur. Bukan hanya itu saja, Baginda juga menanggung rasa malu. Kini ia sadar betapa kelirunya berbuat semena-mena kepada Abu Nawas. Abu Nawas yang nampak lucu dan sering menyenangkan orang itu ternyata bisa berubah menjadi garang dan ganas serta mampu membalas dendam terhadap orang yang mengusiknya.
Abu Nawas pulang dengan perasaan lega. Istrinya pasti sedang menunggu di rumah untuk mendengarkan cerita apa yang dibawa dari istana.
oo000oo

Abu Nawas Mendemo Tuan Kadi

 Pada suatu sore, ketika Abu Nawas sedang mengajar murid-muridnya. Ada dua orang tamu datang ke rumahnya. Yang seorang adalah wanita tua penjual kahwa, sedang satunya lagi adalah seorang pemuda berkebangsaan Mesir.
Wanita tua itu berkata beberapa patah kata kemudian diteruskan dengan sipemuda Mesir. Setelah mendengar pengaduan mereka, Abu Nawas menyuruh murid-muridnya menutup kitab mereka.
"Sekarang pulanglah kalian. Ajak teman-teman kalian datang kepadaku pada malam hari ini sambil membawa cangkul, penggali, kapak dan martil serta batu."
Murid-murid Abu Nawas merasa heran, namun mereka begitu patuh kepada Abu Nawas. Dan mereka merasa yakin gurunya selalu berada membuat kejutan dan berddfa di pihak yang benar.
Pada malam harimya mereka datang ke rumah Abu Nawas dengan membawa peralatan yang diminta oleh Abu Nawas.
Berkata Abu Nawas,"Hai kalian semua! Pergilah malam hari ini untuk merusak Tuan Kadi yang baru jadi."
"Hah? Merusak rumah Tuan Kadi?" gumam semua muridnya keheranan. 
"Apa? Kalian jangan ragu. Laksanakan  saja perintah gurumu ini!" kata Abu Nawas menghapus keraguan murid-muridnya. Barangsiapa yang mencegahmu, jangan kau perdulikan, terus pecahkan saja rumah Tuan Kadi yang baru. Siapa yang bertanya, katakan saja aku yang menyuruh merusak. Barangsiapa yang hendak melempar kalian, maka pukullah mereka dan iemparilah dengan batu."
Habis berkata demikian, murid-murid Abu Nawas bergerak ke arah Tuan Kadi. Laksana demonstran mereka berteriak-teriak menghancurkan rumah Tuan Kadi.
Orang-orang kampung merasa heran melihat kelakukan mereka. Lebih-lebih ketikatanpa basa-basi lagi mereka iangsung merusak rumah Tua Kadi. Orang-or-ang kampung itu berusaha mencegah perbuatan mereka, namun karena jumlah
murid-murid Abu Nawas terlalu banyak maka orang-orang kampung tak berani mencegah.
Melihat banyak orang merusak rumahnya, Tuan Kadi segera keluar dan bertanya,"Siapa yang menyuruh kalian merusak rumahku?"
Murid-murid itu menjawab,"Guru kami Tuan Abu Nawas yang menyuruh kami!"
Habis menjawab begitu mereka bukannya berhenti malah terus menghancurkan rumah Tuan Kadi hingga rumah itu roboh dan rata dengan tanah.
Tuan Kadi hanya bisa marah-marah karena tidak orang yang berani membelanya
"Dasar Abu Nawas provokator, orang gila! Besok pagi aku akan melaporkannya kepada Baginda."
Benar, esok harinya Tuan Kadi mengadukan kejadian semalam sehingga Abu Nawas dipanggil menghadap Baginda.
Setelah Abu Nawas menghadap Baginda, ia ditanya. "Hai Abu Nawas apa sebabnya kau merusak rumah Kadi itu"
 Abu Nawas menjawab,"Wahai Tuanku, sebabnya ialah pada sliatu malam hamba bermimpi, bahwasanya Tuan Kadi menyuruh hamba merusak rumahnya. Sebab rumah itu tidak cocok baginya, ia menginginkan rumah yang lebih bagus lagi.Ya, karena mimpi itu maka hamba merusak rumah Tuan Kadi."
Baginda berkata," Hai Abu Nawas, bolehkah hanya karena mimpi sebuah perintah dilakukan? Hukum dari negeri mana yang kau pakai itu?"
Dengan tenang Abu Nawas menjawab,"Hamba juga memakai hukum Tuan Kadi yang baru ini Tuanku."
Mendengar perkataan Abu Nawas seketika wajah Tuan Kadi menjadi pucat. la terdiam seribu bahasa.
"Hai Kadi benarkah kau mempunyai hukum seperti itu?" tanya Baginda.
Tapi Tuan Kadi tiada menjawab, wajahnya nampak pucat, tubuhnya gemetaran karena takut.
"Abu Nawas! Jangan membuatku pusing! Jelaskan kenapa ada peristiwa seperti ini !" perintah Baginda.
"Baiklah ...... "Abu Nawas tetap tenang.  "Baginda.... beberapa hari yang lalu ada seorang pemuda Mesir datang ke negeri Baghdad ini untuk berdagang sambil membawa harta yang banyak sekali. Pada suatu malam ia bermimpi kawin dengan anak Tuan Kadi dengan mahar (mas kawin) sekian banyak. Ini hanya mimpi Baginda. Tetapi Tuan Kadi yang mendengar kabar itu langsung mendatangi si pemuda Mesir dan meminta mahar anaknya. Tentu saja pemuda Mesir itu tak mau membayar mahar hanya karena mimpi. Nah, di sinilah terlihat arogansi Tuan Kadi, ia ternyata merampas semua harta benda milik pemuda Mesir sehingga pemuda itu menjadi seorang pengemis gelandangan dan akhirnya ditolong oleh wanita tua penjual kahwa."
Baginda terkejut mendengar penuturan Abu Nawas, tapi masih belum percaya seratus persen, maka ia memerintahkan Abu Nawas agar memanggil si pemuda Mesir. Pemuda Mesir itu memang sengaja disuruh Abu Nawas menunggu di depan istana, jadi mudah saja bagi Abu Nawas memanggil pemuda itu ke hadapan Baginda.
Berkata Baginda Raja,"Hai anak Mesir ceritakanlah hal-ihwal dirimu sejak engkau datang ke negeri ini."
Ternyata cerita pemuda Mesir itu sama dengan cerita Abu Nawas. Bahkan pemuda itu juga membawa saksi yaitu Pak Tua pemilik  tempat kost dia menginap.
"Kurang ajar! Ternyata aku telah mengangkat seorang Kadi yang bejad moralnya."
Baginda sangat murka. Kadi yang baru  itu dipecat dan seluruh harta bendanya dirampas dan diberikan kepada si pemuda Mesir.
Setelah perkara selesai, kembalilah si pemuda Mesir itu dengan Abu Nawas pulang ke rumahnya. Pemuda Mesir itu hendak membalas kebaikan Abu Nawas.
Berkata Abu Nawas,"Janganlah engkau memberiku barang sesuatupun kepadaku. Aku tidak akan menerimanya sedikitpun jua."
Pemuda Mesir itu betul-betul mengagumi Abu Nawas. Ketika ia kembali kenegeri Mesir ia menceritakan tentang kehebatan Abu Nawas itu kepadapenduduk Mesir sehingga nama Abu Nawas menjadi sangat terkenal.
oo000oo

Pesan Bagi Para Hakim

Siapakah Abu Nawas? Tokoh yang dinggap badut namun juga dianggap ulama besar ini— sufi, tokoh super lucu yang tiada bandingnya ini aslinya orang Persia yang dilahirkan pada tahun 750 M di  Ahwaz meninggal pada tahun 819 M di Baghdad. Setelah dewasa ia mengembara ke Bashra dan Kufa. Di sana ia belajar bahasa Arab dan bergaul rapat sekali dengan orang-orang badui padang pasir. Karena pergaulannya itu ia mahir bahasa Arab dan adat istiadat dan kegemaran orang Arab", la juga pandai bersyair, berpantun dan menyanyi. la sempat pulang ke negerinya, namun pergi lagi ke Baghdad bersama ayahnya, keduanya menghambakan diri kepada Sultan Harun Al Rasyid Raja Baghdad.Mari kita mulai kisah penggeli hati ini. Bapaknya Abu Nawas adalah Penghulu Kerajaan Baghdad bernama Maulana. Pada suatu hari bapaknya Abu Nawas yang sudah tua itu sakit parah dan akhirnya meninggal dunia.Abu Nawas dipanggil ke istana. la diperintah Sultan (Raja) untuk mengubur jenazah bapaknya itu sebagaimana adat Syeikh Maulana. Apa yang dilakukan Abu Nawas hampir tiada bedanya dengan Kadi Maulana baik mengenai tatacara memandikan jenazah hingga mengkafani, menyalati dan mendo'akannya, maka Sultan bermaksud mengangkat Abu Nawas menjadi Kadi atau penghulu menggantikan kedudukan bapaknya.
Namun... demi mendengar rencana sang Sultan.
Tiba-tiba saja Abu Nawas yang cerdas  itu tiba-tiba nampak berubah menjadi gila.
Usai upacara pemakaman bapaknya. Abu Nawas mengambil batang sepotong batang pisang dan diperlakukannya seperti kuda, ia menunggang kuda dari ba-tang pisang itu sambil berlari-lari dari kuburan bapaknya menuju rumahnya. Orang yang melihat menjadi terheran-heran dibuatnya.
Pada hari yang lain ia mengajak anak-anak kecil dalam jumlah yang cukup banyak untuk pergi ke makam bapaknya. Dan di atas makam bapaknya itu ia mengajak anak-anak bermain rebana dan bersuka cita
. Kini semua orang semakin heran atas kelakuan Abu Nawas itu, mereka menganggap Abu Nawas sudah menjadi gila karena ditinggal mati oleh bapaknya.
Pada suatu hari ada beberapa orang utusan dari Sultan Harun Al Rasyid datang menemui Abu Nawas.
"Hai Abu Nawas kau dipanggil Sultan untuk menghadap ke istana." kata wazir utusan Sultan.
"Buat apa sultan memanggilku, aku tidak ada keperluan dengannya."jawab Abu Nawas dengan entengnya seperti tanpa beban.
"Hai Abu Nawas kau tidak boleh berkata seperti itu kepada rajamu." "Hai wazir, kau jangan banyak cakap. Cepat ambil ini kudaku ini dan mandikan di sungai supaya bersih dan segar." kata Abu Nawas sambil menyodorkan sebatang pohon pisang yang dijadikan kuda-kudaan.Si wazir hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan Abu Nawas. "Abu Nawas kau mau apa tidak menghadap Sultan?" kata wazir
"Katakan kepada rajamu, aku sudah tahu maka aku tidak mau." kata Abu Nawas.
"Apa maksudnya Abu Nawas?" tanya wazir dengan rasa penasaran.
  "Sudah pergi sana, bilang saja begitu kepada rajamu." sergah Abu Nawas sembari menyaruk debu dan dilempar ke arah si wazir dan teman-temannya.
Si wazir segera menyingkir dari halaman rumah Abu Nawas. Mereka laporkan keadaan Abu Nawas yang seperti tak waras itu kepada Sultan Harun Al Rasyid.
Dengan geram Sultan berkata,"Kalian bodoh semua, hanya menghadapkan Abu Nawas kemari saja tak becus! Ayo pergi sana ke rumah Abu Nawas bawa dia kemari dengan suka rela ataupun terpaksa."
Si wazir segera mengajak beberapa prajurit istana. Dan dengan paksa Abu Nawas di hadirkan di hadapan raja. 
Namun lagi-lagi di depan raja Abu Nawas berlagak pilon bahkan tingkahnya ugal-ugalan tak selayaknya berada di hadapan seorang raja. 
"Abu Nawas bersikaplah sopan!" tegur Baginda.
"Ya Baginda, tahukah Anda....?"
"Apa Abu Nawas...?"
"Baginda... terasi itu asalnya dari udang !" 
"Kurang ajar kau menghinaku Nawas !"
"Tidak Baginda! Siapa bilang udang berasal dari terasi?" 
Baginda merasa dilecehkan, ia naik pitam dan segera memberi perintah kepada para pengawalnya. "Hajar dia ! Pukuli dia sebanyak dua puluh lima kali"
Wah-wah! Abu Nawas yang kurus kering itu akhirnya lemas tak berdaya dipukuli tentara yang bertubuh kekar.
Usai dipukuli Abu Nawas disuruh keluar  istana. Ketika sampai di pintu gerbang kota, ia dicegat oleh penjaga.
"Hai Abu Nawas! Tempo hari ketika kau hendak masuk ke kota ini kita telah mengadakan perjanjian. Masak kau lupa pada janjimu itu? Jika engkau diberi hadiah oleh Baginda maka engkau berkata: Aku bagi dua; engkau satu bagian, aku satu bagian. Nah, sekarang mana bagianku itu?"
"Hai penjaga pintu gerbang, apakah  kau benar-benar menginginkan hadiah Baginda yang diberikan kepada tadi?"
"lya, tentu itu kan sudah merupakan perjanjian kita?"
"Baik, aku berikan semuanya, bukan hanya satu bagian!" 
"Wan ternyata kau baik hati Abu Nawas. Memang harusnya begitu, kau kan sudah sering menerima hadiah dari Baginda."
Tanpa banyak cakap lagi Abu Nawas mengambil sebatang kayu yang agak besar lalu orang itu dipukulinya sebanyak dua  puluh lima kali.Tentu saja orang itu menjerit-jerit kesakitan dan menganggap Abu Nawas telah menjadi gila.
Setelah penunggu gerbang kota itu klenger Abu Nawas meninggalkannya begitu saja, ia terus melangkah pulang ke rumahnya.
Sementara itu si penjaga pintu gerbang mengadukan nasibnya kepada Sultan Harun Al Rasyid.
"Ya, Tuanku Syah Alam, ampun beribu ampun. Hamba datang kemari mengadukan Abu Nawas yang teiah memukul hamba sebanyak dua puluh lima kali tanpa suatu kesalahan. Hamba mohom keadilan dari Tuanku Baginda."
Baginda segera memerintahkan pengawal untuk memanggil Abu Nawas. Setelah
Abu Nawas berada di hadapan Baginda ia ditanya."Hai Abu Nawas! Benarkah kau telah memukuli penunggu pintu gerbang kota ini sebanyak dua puluh lima kali pukulan?"
Berkata Abu Nawas,"Ampun Tuanku, hamba melakukannya karena sudah sepatutnya dia menerima pukulan itu."
"Apa maksudmu? Coba kau jelaskan sebab musababnya kau memukuli orang itu?" tanya Baginda.
"Tuanku,"kata Abu Nawas."Hamba dan penunggu pintu gerbang ini telah mengadakan perjanjian bahwa jika hamba diberi hadiah oleh Baginda maka hadiah tersebut akan dibagi dua. Satu bagian untuknya satu bagian untuk saya. Nah pagi tadi hamba menerima hadiah dua puluh lima kali pukulan, maka saya berikan pula hadiah dua puluh lima kali pukulan kepadanya."
"Hai penunggu pintu gerbang, benarkah kau telah mengadakan perjanjian seperti itu dengan Abu Nawas?" tanya Baginda.
"Benar Tuanku,"jawab penunggu pintu gerbang.
"Tapi        hamba tiada mengira jika Baginda memberikan hadiah pukulan." 
"Hahahahaha        IDasar tukang peras, sekarang kena batunya kau!"sahut Baginda."Abu Nawas tiada bersalah, bahkan sekarang aku tahu bahwa penjaga pintu gerbang kota Baghdad adalah orang yang suka narget, suka memeras orang! Kalau kau tidak merubah kelakuan burukmu itu sungguh aku akan memecat dan menghukum kamu!"
"Ampun Tuanku,"sahut penjaga pintu gerbang dengan gemetar. 
Abu Nawas berkata,"Tuanku, hamba sudah lelah, sudah mau istirahat, tiba-tiba diwajibkan hadir di tempat ini, padahal hamba tiada bersalah. Hamba mohon ganti rugi. Sebab jatah waktu istirahat hamba sudah hilang karena panggilan Tuanku. Padahal besok hamba harus mencari nafkah untuk keluarga hamba."
Sejenak Baginda melengak, terkejut atas protes Abu Nawas, namun tiba-tiba ia tertawa terbahak-bahak, "Hahahaha...jangan kuatir Abu Nawas."
Baginda kemudian memerintahkan bendahara kerajaan memberikan sekantong uang perak kepada Abu Nawas. Abu Nawas pun pulang dengan hati gembira.
Tetapi sesampai di rumahnya Abu Nawas masih bersikap aneh dan bahkan semakin nyentrik seperti orang gila sungguhan.
Pada suatu hari Raja Harun Al Rasyid mengadakan rapat dengan para menterinya. 
 "Apa pendapat kalian mengenai Abu Nawas yang hendak kuangkat sebagai kadi?"Wazir atau perdana meneteri berkata,"Melihat keadaan Abu Nawas yang semakin parah otaknya maka sebaiknya  Tuanku mengangkat orang lain saja menjadi kadi."
Menteri-menteri yang lain juga mengutarakan pendapat yang sama.
"Tuanku, Abu Nawas telah menjadi gila karena itu dia tak layak menjadi kadi." 
"Baiklah, kita tunggu dulu sampai dua puluh satu hari, karena bapaknya baru saja mati. Jika tidak sembuh-sembuh juga bolehlah kita mencari kadi yang lain saja."
Setelah lewat satu bulan Abu Nawas masih dianggap gila, maka Sultan Harun Al Rasyid mengangkat orang lain menjadi kadi atau penghulu kerajaan Baghdad.
Konon dalam seuatu pertemuan besar ada seseorang bernama Polan yang sejak
lama berambisi menjadi Kadi, la mempengaruhi orang-orang di sekitar Baginda untuk menyetujui jika ia diangkat menjadi Kadi, maka tatkala ia mengajukan dirinya menjadi Kadi kepada Baginda maka dengan mudah Baginda menyetujuinya.
Begitu mendengar Polan diangkat menjadi kadi maka Abu Nawas mengucapkan syukur kepada Tuhan.
  "Alhamdulillah        aku telah terlepas dari balak yang mengerikan.
Tapi.,..sayang sekali kenapa harus Polan yang menjadi Kadi, kenapa tidak yang lain saja."
Mengapa Abu Nawas bersikap seperti orang gila? Ceritanya begini: 
Pada suatu hari ketika ayahnya sakit parah dan hendak meninggal dunia ia panggii Abu Nawas untuk menghadap. Abu Nawas pun datang mendapati bapaknya yang sudah lemah lunglai.
Berkata bapaknya,"Hai anakku, aku sudah hampir mati. Sekarang ciumlah telinga kanan dan telinga kiriku."
Abu Nawas segera menuruti permintaan terakhir bapaknya. la cium telinga kanan bapaknya, ternyata berbau harum, sedangkan yang sebelah kiri berbau sangat busuk.
"Bagamaina anakku? Sudah kau cium?"
"Benar Bapak!" 
"Ceritakankan dengan sejujurnya, baunya kedua telingaku int."
"Aduh Pak, sungguh mengherankan, telinga Bapak yang sebelah kanan berbau harum sekali. Tapi... yang sebelah kiri kok baunya amat busuk?"
"Hai anakku Abu Nawas, tahukah apa sebabnya bisa terjadi begini?"
"Wahai bapakku, cobalah ceritakan kepada anakmu ini." 
Berkata Syeikh Maulana "Pada suatu  hari datang dua orang mengadukan masalahnya kepadaku. Yang seorang aku dengarkan keluhannya. Tapi yang seorang lagi karena aku tak suaka maka tak kudengar pengaduannya. Inilah resiko menjadi Kadi (Penghulu). Jia kelak kau suka menjadi Kadi maka kau akan mengalami hai yang sama, namun jika  kau tidak suka menjadi Kadi maka buatlah alasan yang masuk akal agar kau tidak dipilih sebagai Kadi oleh Sultan Harun Al Rasyid. Tapi tak bisa tidak Sultan Harun Al Rasyid pastilah tetap memilihmu sebagai Kadi."
Nan, itulah sebabnya Abu Nawas pura-pura menjadi gila. Hanya untuk menghindarkan diri agar tidak diangkat menjadi kadi, seorang kadi atau penghulu pada masa itu kedudukannya seperti hakim yang memutus suatu perkara. Walaupun Abu Nawas tidak menjadi Kadi namun dia sering diajak konsultasi oleh sang Raja untuk memutus suatu perkara. Bahkan ia kerap kali dipaksa datang ke istana hanya sekedar untuk menjawab pertanyaan Baginda Raja yang aneh-aneh dan tidak masuk akal.
oo000oo
 

Saat-saat Kejayaan

PADA masa-masa awal dakwah Nabi di kalangan penduduk Mekah, dengan beberapa pengecualian, mereka melakukan tekanan-tekanan dengan berbagai penyiksaan yang tak kenal belas kasihan. Tidak puas dengan sekedar tekanan-tekanan, orang-orang Mekah akhirnya berusaha mengancam hidup Nabi dan beliau terpaksa hijrah ke Madinah untuk mencari perlindungan.
Setelah beberapa tahun meleweiti penderitaan, Nabi Muhammad akhirnya berhasil merekrut pengikut-peng-
ikut dar i kalangan bangsa Arab. Mereka menyaimbut seruannya dan bersatu-padu di bawah panji-panji Islam untuk membela Nabi dan membela keyakinan baru mereka dari serangan musuh-musuh bebuyutannya.
Tetapi orang-orang Mekah tak pernah berhent i memusuhi beliau. Melanggar perjanjian Hudaibiyyah yang telah disepakati, orang-orang Mekah menyerang wilayah marga Bani Khuza'a yang saat itu berada di bawah per-lindungan kaum muslimin dan membantu beberapa orang di antara warganya. Bani Khuza'ah menuntut keadilan kepada Rasulullah. Seketika itu pula Rasulullah mengirim-kan sepuluh ribu tentara untuk menyerang para pelanggar perjanjian dan berhasil masuk ke Mekah tanpa mendapat perlawanan.
Akhirnya Nabi Muhammad memasuki kota tempat ia dahulu diusi r oleh kaumnya. Mereka-mereka yang perna h mencemoohnya sebagai pemimpi , meludahi wajahnya, memasang onak duri di jalan yang dilewatinya, dan menjatuhkan kotoran unta ke kepala beliau saat beliau sedang bersujud menyembah Allah, semua berkumpul di hadapan beliau dengan putus asa dan perasaan takut . Mereka yang pernah mengembargo keluarganya dan membiarkannya hampi r mat i kelaparan, mereka yang pernah mengepung rumahnya di tengah kegelapan malam dengan tujuan untuk membunuhnya dan mereka yang telah mengusirnya dari tanah air tercintanya —saat itu mereka semua ada di hadapan Rasulullah mengharap ampunan beliau. Mereka yang berkali-kali menyerang beliau, merobek dahinya dengan lemparan batu, me-matahkan gigi , dan membunuh paman dan sahabat -sahabat yang paling dicintainya di hadapan matanya —pada hari itu mereka semua berkumpul di hadapan beliau, dalam keadaan lemah dan tanpa harapan. Mereka yang dengan garang memburu Nabi bahkan sampai saat belaiu berada dalam pengasingannya, mereka yang me-nodai perikemanusiaannya dengan melakukan kebiadab-an yang tidak mengenal malu terhadap kaum laki-laki dan wanita yang tiada berdaya, bahkan terhadap jasad salah seorang sahabat yang sudah meninggal, mereka juga ada di hadapan Nabi saat itu, hina-dina dan bersujud di kaki beliau.
Tetapi tidak ada tanda-tanda dendam maupu n ke-bencian di wajah Nabi . Sebaliknya, dar i roman muka beliau memancar sikap cinta kasih kepada sesama dan rasa syukur kepada Tuhan. Di saat puncak kejayaan beliau, semua penderitaan yang pernah rasakan beliau lupakan, setiap luka yang pernah dideritanya beliau maafkan, dan bahkan Rasulullah mengumumkan pengampunan massal terhadap warga Mekah. Kaum muslimin pu n mengikut i jejaknya. Tidak ada rumah yang dijarah, tidak ada pen-duduk yang dianiaya, tidak ada wanita yang diperlaku-kan hina. Kemudian Rasulullah berpidato di depan massa dan dengan vibrasi yang kuat beliau mendeklarasikan,
"Semua kejayaan dan semua kemenangan adalah milik Allah dan hanya demi Allah semata. Tidak ada seorang pu n yang lebih tinggi kedudukannya kecual i karena taqwanya. Semua manusia adalah anak cucuk Adam.
Orang yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertaqwa."
Rasulullah menghentikan pidato sejenak dan me-natap musuh-musuhnya yang masih dicekam ketakutan. Apa yang akan terjadi bila kenangan pahi t masa lalu melintas di benak beliau. Tetapi beliau berkata kepada mereka dengan suara yang tenang, "Wahai penduduk Quraisy! Apa yang kalian kira akan aku perbuat terhadap kalian?"
"Denga n lapang dada dan belas kasih, Wahai saudara kami dan keponakan kami yang mulia," jawab mereka.
Air mata mulai membasahi mata beliau mendengar jawaban mereka. Lalu ia berkata, "Aku tidak akan mengatakan kepada kalian seperti apa yang Nabi Yusuf katakan kepada saudara-saudaranya. Aku tidak akan menyalahkan kalian hari ini. Allah akan mengampuni kalian hari ini. Dia-lah Yang Maha Pengasih agi Maha Penyayang." []

Hirak Har (Ibnu Hisyam)

Siapa Orang yang Paling Buruk

Suatu hari seorang lelaki meminta ijin untuk ber-bincang-bincang dengan Nabi Muhammad. Dia meminta ijin kepada sayidah Aisyah, istri beliau, yang kemudian menyampaikannya kepada Nabi . "Biarkan dia masuk, orang ini dikenal orang yang paling buruk di kabilahnya," kata Rasulullah mengijinkan.
Sayidah 'Asiyah mengijinkan orang tersebut masuk.Si lelaki itu pun masuk dan tanpa basa-basi langsung duduk di hadapan Nabi. Nabi pun berbicara kepada lelaki itu dengan penuh perhatian dan keramahan. Hal ini tentu saja membuat Aisyah terheran-heran.
Segera setelah orang itu pergi , Aisyah bertanya kepada Rasulullah, "Engkau menganggap orang itu tidak ramah dan kasar; lalu mengapa engkau berbicara dengan-nya dengan penuh keramahan, lemah-lembut dan penuh penghormatan?"
Rasulullah menjawab, "Aisyah, dia adalah orang yang paling buruk di dunia ini karena ia tidak mau bergaul dengan orang lain sebab ia menganggap bahwa orang lain adalah lebih buruk darinya." []

Hirak Har, Ibnu Hisyam

Kunci Surga

Saat Rasulullah duduk-duduk bersama para sahabat-nya, Rasulullah bertanya, "Siapa di antara kalian yang memulai hari ini dengan berpuasa?"
Semua terdiam kecuali Abu Bakr yang menjawab, "Saya wahai Rasulullah."
"Siapa di antara kalian yang membantu fakir miskin hari ini?" tanya Rasulullah lagi.
"Siapa di antara kalian yang menjenguk orang sakit hari ini?" tanya Rasulullah ketiga kalinya.
Semua tetap diam kecuali Abu Bakr yang menjawab, "Saya Wahai Rasulullah."
Rasulullah berkata, "Kebajikan-kebajikan ini tidak akan berkumpul pada seseorang melainkan akan menjadi jaminan kunci surga baginya."[]

al-Bukhari

Setiap Orang adalah Pemimpin

SEPANJANG kari r Rasulullah sebagai pendidik, beliau senantiasa berusaha menekankan kepada umatnya bahwa setiap orang dibebani kewajiban-kewajiban yang harus ditunaikannya dan bahwa setiap orang bertanggung jawab atas kewajiban yang dibebankan di pundaknya.
Rasulullah bersabda, "Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban tentang orang-orang yang berada di bawah kepemimpinannya. Seorang raja adalah pemimpin dan ia akan dimintai tanggung jawab atas kepemimpinan terhadap rakyatnya. Seorang lelaki adalah pemimpin dan ia akan dimintai pertanggung-jawaban atas kepemimpinan terhadap keluarganya , seorang pelayan adalah pemimpin atas kekayaan milik tuannya dan dia akan dimintai tanggung jawab atas apa yang dipercayakan kepadanya. Seorang wanita adalah pemimpin di rumah suaminya dan ia akan dimintai per-tanggungjawaban atas putra-putrinya." []

Cinta Sejati

SETELAH Mekah berhasi l ditaklukkan, Nabi Muhammad kembali ke Madinah. Ribuan orang mengikuti kepergian beliau, mereka juga sangat ingin mendengar dakwah Islam, langsung dari lisan Rasulullah.
Dalam perjalanan pulang, tibalah saat shalat Ashar. Rasulullah mengambi l air wudlu. Orang-orang ber -kerumun di sekeliling beliau dan berebut membasuh muka dengan air bekas wudlu Rasulullah.
Usai berwudlu, Rasulullah bertanya kepada mereka, "Sahabat-sahabatku, mengapa kalian membasuh muka kalian dengan air bekas wudluku?"
"Kami ingin menunjukkan cinta dan penghormatan kami kepada Anda," jawab para sahabatnya.
"Jika kalian benar-benar mencintaiku, ikutilah jejakku dan terimalah ajaran-ajaranku. Mereka yang menunjuk-kan cintanya kepada dengan cara-cara lahiriah dan tidak mengikut i teladanku, bukan termasuk golongan pengikut-ku," tegas Rasulullah dengan suara berat. []

Al-Bukhari

Bendahara

SETELAH bertahun-tahun perjuangan dan pen-deritaan, misi suci nabi Muhammad akhirnya meraih kejayaan di semenanjung Arab. Panji-panji Islam berkibar di wilayah-wilayah yang luas meliputi cakrawala Persia dan Syria. Harta yang berlimpah-ruah mengali r ke Madinah dar i berbagai negeri-negeri persemakmuran Islam.
Di antar a putra-putr i Nabi Muhammad , hanya Fatimah yang masih hidup saat itu. Sang ayah sangat mencintai putr i satu-satunya itu. Setiap kali Fatimah datang, Rasulullah selalu menerimanya dengan penuh kasih sayang. Demikian juga Fatimah, setiap kali datang ia selalu merebahkan dirinya dalam dekapan sang ayah. Kemudian Rasulullah mendudukkan Fatimah di samping beliau sembari menyeka peluh yang membasahi wajah putri beliau dengan sapu tangannya atau meraba dahinya dan mengecek kesehatan sang putri .
Suatu hari Fatimah datang menemui Nabi . Setelah saling menanyakan kabar dan kesehatan masing-masing,
Fatimah berkata kepada sang ayah dengan nada me-ngeluh, "Ayah, terlalu banyak mulut yang harus disuapi
di rumahku. Aku dan suamiku, tiga putra kami, empat keponakan, seorang pembantu, belum tamu-tamu yang datang silih berganti. Aku harus memasak sendirian untuk mereka semua. Aku merasa sangat letih dan kecapekan. Aku mendengar banyak tawanan wanita yang baru saja datang ke Madinah. Jika ayah bersedia memberiku salah satu dari mereka untuk membantuku, itu akan menjadi pertolongan yang sangat berharga bagiku."
"Sayangku, semua kekayaan dan tawanan perang yang engkau lihat adalah milik masyarakat muslim. Akuhanyalah bendahara; tugasku adalah mengumpulkan mereka dar i berbagai wilayah dan membagi-bagikan mereka kepada orang-orang yang berhak. Dan engkau bukan termasuk yang memiliki hak, anakku, oleh karena itu aku tidak bisa memberimu sesuatu pun dari aset negara ini," jawab Rasulullah dengan suara parau. Kemudian beliau melanjutkan,
"Dunia ini adalah tempat untuk beramal . Lakukan tugas-tugasmu dengan baik. Jika engkau merasa lelah, ingatlah Allah dan mintalah pertolongan kepada-Nya. Dia akan memberimu ketabahan dan kekuatan." []

Hirak Har, Abu Dawud

Bagaimana Nabi Memotong Lidah Tukang Fitnah

PERANG Hunai n sedang berkecamuk. Suku Hawazi n da n Quraisy yang dipimpin oleh Abalak mengangkat senjata melawan Rasulullah dan kedua pasukan bertempur di medan Hunain, sekitar tiga mil dari Mekah.
Pertempuran sengit pun berkecamuk. Balatentara muslim mula i terdesak oleh pasukan musuh. Tetapi keberanian dan kegagahan Rasulullah yang maju ke tengah-tengah medan perang mampu menyelamatkan situasi. Pasukan musuh sama sekali bisa dipukul mundur . Harta pampasan perang yang melimpah jatuh ke tangan pasukan yang menang.
Seperti biasanya, Rasulullah membagi-bagikan empat perlima dari harta pampasan perang itu kepada orang-orang yang benar-benar ikut dalam perang. Sedangkan Rasulullah sendiri mendapat bagian seperlima dan beliau membagi-bagikannya kepada anggota keluarga yang di-kehendakinya.
Di antara penerima bagian rampasan perang itu adalah Abbas, seorang penyair dan baru saja masuk Islam.
Dia merasa tidak puas dengan bagiannya dan mengumpat-umpat Rasulullah dengan syair-syair yang menjijikkan. Rasulullah mendengar omongannya dan dengan ter-senyum beliau berkata, "Bawa orang itu dari sini dan potong saja lidahnya!"
Umar yang marah melihat kelakuannya hampir saja melaksanakan perintah Rasulullah; tetapi Ali tiba-tiba campur tangan dan menyeret si pesakitan yang gemetaran itu ke lapangan umum di mana binatang ternak hasilpampasan dikumpulkan. Ali berkata, "Ambillah sebanyak yang kamu suka!"
"Apa?" tanya Abbas tak percaya. "Beginikah cara Nabi memotong lidahku? Demi Allah, aku tidak mau mengambil sedikit pun," kata Abbas lagi —sembari me-nahan malu. 
Sejak saat itu Abbas tidak pernah menyusun bait-bait syair kecuali yang berisi pujian terhadap Rasulullah. []

Life of Ali


Kehati-hatian yang Tak Tertandingi

SUATU malam Rasulullah tidak bisa tidur dan mem-bolak-balik tubuhnya di atas ranjang penuh gelisah. Sang istri bertanya, "Wahai Rasulullah! Engkau tidak tidur semalaman?"
Rasulullah menjawab, "Aku menemukan satu buah kurma di jalan, lalu aku pungut buah itu dan aku makan
daripada nanti busuk dan terbuang sia-sia. Namun kini aku merasa gelisah, karena siapa tahu kalau buah kurma yang kumakan termasuk harta sedekah." []

(Hikayat-i-Sahabah, Zakaria)

Senin, 14 Oktober 2013

Wanita dan Perang

PADA masa Rasulullah, wanita memiliki semangat yang tinggi untuk turut serta dalam peperangan sebagai-mana kaum lelaki. Mereka tidak menyiakan-nyiakan setiap kesempatan untuk maju ke medan tempur bersama-sama menghadapi marabahaya dan meraih kemenangan. 
Sayidah Aisyah merawat pasukan yang terluka dalam perang Uhud, ia mengisi kantong-kantong air dengan air minum, membawanya ke medan tempur serta membagi-bagikannya kepada tentara yang terluka. Ketika kantong air habis, ia mengisinya kembali dan membawa-nya kembal i ke medan tempur.
"Waktu itu ada enam orang perempuan, " kata Ummu Zaid yang berkesempatan pergi ke medan perang Khaibar dan mengirim informasi kepada Rasulullah. Kami melihat tanda-tanda ketidaksetujuan di wajah beliau atas keterlibatan kami.
"Atas ijin siapa dan dengan siapa kalian datang kemari?" tanya Rasulullah.
Denga n penu h hormat kami menjawab, "Wahai Rasulullah! Memang kami hanya bisa menenun, tetapi siapa tahu tenunan kami bisa sedikit berguna di medan perang. Di samping itu, kami membawa obat-obatan untuk pasukan yang terluka. Paling tidak kami bisa membawa-kan anak panah untuk pasukan pemanah. Kami bisa
menyediakan obat-obatan bagi yang sakit, mempersiapkan dan menyajikan makanan untuk para pasien. Akhirnya Rasulullah mengijinkan kami untuk tetap tinggal." []

(Dari: Abu Dawud: Hikayat-i-Sahabah, Zakaria)

Ingatlah Hak Tubuh

ABDULLAH adalah sahabat Nabi yang dikenal sangat saleh. la mengabdikan seluruh hidupnya untuk beribadah. Dia biasa mengkhatamkan al-Qur'an setiap hari dan me-lewati hari-hari dengan berpuasa dan bangun untuk shalat malam.
Nabi datang untuk mempelajari sikap menyiksa diri yang dilakukan oleh Abdullah. Beliau mencela sikap ter-sebut dan berkata, "Jika kamu terus melakukan kebiasaan ini, tubuhmu akan semakin lemah dan pandangan mata-mu akan semakin pudar . Tubuh kita memiliki hak-hak yang harus kita penuhi." []

(Hikayat-i-Sahabah, Zakaria)

Sikap Rasulullah terhadap si Lemah

SEBELUM masuk Islam, Zaid dilahirkan sebagai seorang Nasrani . Saat masih kecil, ia ikut dengan ibunya bersafari dalam suatu kafilah. Segerombolan perampok menghadang kafilahnya, menculiknya dan menjuainya
sebagai budak belian.
Zaid jatuh ke tangan Hakim yang kemudian meng-hadiahkan Zaid kepada bibi Khadijah. Beberapa waktu
setelah pernikahannya dengan Rasulullah, Khadijah menghadiahkan Zaid kepada suaminya Muhammad saw.
Salah satu rombongan haji melihat Zaid di Mekah dan mereka mengenalinya, kemudian mereka memberitahu-kan keberadaan Zaid kepada ayah kandungnya.
Sang ayah yang sudah putus asa mencarinya itu kemudian pergi ke Mekah untuk menjemput anaknya pulan g dengan pembayaran uang ataupun tebusan. Tatapan mata sang ayah yang berduka menyentuh hati Rasulullah, beliau memerdekakan Zaid tanpa meminta tebusan apa pun. Tetapi Zaid menolak pergi dan berkata, "Aku tidak akan pergi, engkau lebih aku cintai daripada ayah dan ibu kandungku sendiri." []

(Dari: The Prophet and Islam, A. Hakim Khan)

Kasih Tuhan kepada Makhluknya

SUATU hari Nabi terlihat duduk di antara para sahabat, saat seorang lelaki datang dan menyapa beliau, "Tuan, betapa anehnya kejadian yang baru saja aku alami."
Nabi menatap orang yang baru datang itu denganpandangan menyelidik. Lelaki itu meneruskan kisahnya,"Aku sedang melewati sebuah semak-belukar ketika akumendengar suara cicitan anak burung. Aku berhent i danmelihat dua anak burun g merpat i yang masih kecil .Kemudian aku mengambi l kedua anak burung itu danmeletakkannya di atas pakaianku, lalu melanjutkan per-jalanan. Pada saat itu, induk kedua burung merpat i itudatang. Melihat sarangnya kosong, ia terbang melayang-layang mencari jejak anaknya yang hilang. Aku membukatas pakaianku, dan alangkah anehnya! Induk merpat i itumeluncur turun dan hinggap di atas kedua anaknya. Lihat-lah, mereka masih berada di dalam tas bajuku."
Selesai berkata demikian, lelaki itu membuka tas bajunya dan meletakkannya di hadapan Rasulullah. Beliau memperhatikan makhluk itu dan berkata kepada laki-laki yang membawanya, "Kembalikan makhluk-makhluk ini ke sarangnya!"
Setelah berkata demikian wajah Rasulullah tiba-tiba berubah murung dan beliau tenggelam dalam kesendiri-annya. Setelah beberapa saat kemudian, beliau menatap wajah sahabat-sahabatnya dan berkata dengan nada parau, "Betapa tak-terbatasnya kasih sayang seorang ibu. Betapa gelisah hati induk merpati itu memikirkan kedua anaknya! Tetapi ketahuilah sahabat! Kepedulian Allah terhadap makhluknya melebihi semua ini!" []

(Misykat) eBook oleh Nurul Huda Kariem MR.

Di Suatu Lebaran

HARI raya Idul Fitri telah tiba. Sejak pagil-pagi sekali, semua orang sibuk mempersiapkan pesta menyambut
lebaran. Kota Madinah dipenuhi dengan suasana gembira. Waktu pelaksanaan shalat Id semakin dekat saja. Tua-muda, dengan mengenakan pakaian terbaru mereka pergi menuju lapangan. Anak-anak turut beserta orangtua mereka, bermain dan bercanda di tempat yang agak jauh dari orang dewasa. Suasana di sekitar lapangan semakin semarak dengan aroma wewangian yang melenakan dari pakaian yang melambai-lambai serta saputangan yang berkibar-kibar ditimpa riuh-rendah suara anak-anak yang tiada henti .
Usai shalat Id anak-anak tampak sibuk mengucapkan selamat lebaran. Ketika Rasulullah hendak pulang, beliau melihat seorang bocah bertubuh kurus memakai baju compang-camping, duduk sendirian di salah satu sudut lapangan sembari melelehkan air mata.
Rasulullah berjalan menghampir i anak tersebut , dengan penuh kasih sayang mengusap pundaknya dan bertanya, "Mengapa menangis, Nak?"
Si anak denga n mara h menyingkirkan tanga n Rasulullah dan berkata, "Tinggalkan aku sendiri! Aku sedang berdoa."
Rasulullah membelai rambut bocah itu dan dengan suara yang penuh kelembutan beliau bertanya kembali , "Katakan padaku, Nak! Apa yang terjadi padamu?"
Bocah itu menyembunyikan wajah di antara kedua lututnya, lalu berkata," Ayahku terbunuh dalam peperang-
an melawan Muhammad. Ibuku sudah kawin lagi dengan orang lain. Harta benda milikku dijarah orang. Aku hidup bersama dengan ibuku, tetapi suaminya yang baru telah mengusirku pergi. Hari ini semua anak-anak sebayaku bercanda dan menari-nari dengan mengenakan pakaian barunya, tetapi diriku? Aku tidak punya makanan yang kumakan dan tidak pula atap yang melindungiku."
Air mata rnulai menetes di mata Rasulullah. Tetapi eliau mencoba untuk tetap tersenyum sembari bertanya, "Jangan bersedih anakku! Aku juga kehilangan ayah dan ibu saat aku masih kecil."
Si anak menengadahkan kepalanya dan menatap Rasulullah, ia segera mengenal i wajah itu dan ia pun merasa sangat malu. Dengan nada penuh kasih Rasulullah berkata, " Jika aku menjadi ayahmu dan Aisyah menjadi ibumu , dan Fatimah saudaramu, apakah kamu akan merasa bahagia, anakku?"
Si anak mengangguk, "Tentu."
Rasulullah menggandeng tangan anak malang itu dan membawanya ke rumah. Beliau memanggil Aisyah, "Terimalah anak ini sebagai anakmu."
Aisyah memandikan anak itu dengan tangannya sendir i da n memperlakukannya dengan penuh kasih sayang. Setelah memakaikan pakaian padanya, Aisyah berkata, "Sekarang pergilah Nak. Kamu bisa bermain dengan teman-temanmu, dan bila sudah kau rasa cukup, pulanglah."
Si anak kembali ke lapangan seraya menari kegirang-an. Teman-teman sebayanya keheranan melihat per -ubahan yang tiba-tiba pada dirinya. Mereka menghampiri-nya da n menanyakan kisahnya. Si anak malang itu menceritakan semua detail peristiwa yang barusan di -alaminya bersama Nabi.
Mendenga r ceritanya, salah seorang temannya berkata dengan wajah cemberut, "Alangkah bahagianya har i ini bila ayah-ayah kita telah meninggal sepert i ayahnya." [ ]

(Hirak Har, Misykat)

Rasul Perdamaian (bagian 2)

Rasulullah menjawab, "Baiklah. Akan kami laku-kan." Akhirnya kalimat tersebut dihapuskan dari nota perjanjian.
Demikian juga ketika Ali menulis , "Atas nama Muhamma d utusan Allah," Sahal juga kembal i mem-protes, "Kami tidak menerima Muhammad sebagai utusan Allah. Oleh karena itu, kami meminta agar kata-kata itu
dihilangkan."
Tentu saja hal ini membuat Ali dongkol, lalu berkata "Mustahi l bagiku untuk melakukan hal itu."
Rasulullah menengahi sembari tersenyum, "Baiklah, jika kamu tidak mau melakukannya, tunjukkan padaku
kata-kata tersebut. Biar aku yang akan melakukannya."
Ali setuju dan Rasulullah menghapus kata-kata yang dimaksud. Namun permasalahan belum berakhir sampai
di sini. Abu Zandal, salah seorang penduduk Mekah, telah memelu k Islam. Beberapa pendudu k Mekah mem-belenggunya dengan rantai dan menjebloskannya ke dalam penjara bawah tanah. Lebih dari itu, untuk me-maksanya keluar dari Islam, mereka menyetrika tubuh-nya dengan besi panas, tapi ia tetap bertahan dengan keimanannya.
Berita bahwa kaum muslimin berada di sekitar Mekah terdengar oleh Abu Zandal . Lalu dengan berbagai cara, ia berusaha melarikan diri dari penjara bawah tanah dan menyusup ke majelis Rasulullah. Dengan kata-kata me-melas, ia meminta perlidungan kepada kaum muslimin. Luka bakar yang menganga masih terlihat jelas pada tubuhnya.
Melihat kejadian itu Sahal berkata, "Menurut per -janjian, orang ini harus dikembalikan ke Mekah."
"Bukankah perjanjian ini belum ditandatangani? Jadi kami kira aturan itu belum bisa dilaksanakan, dan kami bisa saja menolak untuk mengembalikan Abu Zandal," jawab salah seorang di antara kaum muslimin.
"Tetapi meskipun secara teknis perjanjian ini belum sempurna, syarat-syarat yang ada dalam perjanjian telah
berlaku sesuai dengan kesepakatan kita yang telah lalu. Oleh karena itu Abu Zandal harus dikembalikan. Kalau tidak maka seluruh isi perjanjian harus dibatalkan! " bantah Sahal.
"Baiklah. Keinginanmu akan dipenuhi, " jawa b Rasulullah lalu berpaling ke arah Abu Zandal dan berkata, "Abu Zandal! Kembalilah dan bersabarlah! Allah akan memberi pertolongan padamu."
Penyerahan kembali Abu Zandal diiringi dengan isak tangis yang memilukan. 1.400 kaum muslimin berkumpul saat itu —semuanya kuat dan pemberani, semua mampu dan ahli dalam memainkan senjata dan semua siap untuk mengorbankan hidup mereka demi membela Islam dan saudara-saudara seiman mereka; dan semua tragedi ini terjadi di depan mata mereka, mereka pun merasa putus asa.
Umar tidak mampu menahan diri lagi. la mendekat kepada Rasulullah dan suara gemetar ia berkata, "Wahai
Rasulullah! Apakah engkau bukan lagi utusan Allah?"
"Ya, sungguh aku ini utusan Allah," jawab Ra-sulullah.
"Kita berada di pihak yang benar dan mereka berada di dalam kesesatan. Bukankah demikian?" tanya Umar
bersungut-sungut .
"Ya, engkau benar," jawab Rasul memastikan.
"Kalau demikian mengapa engkau mengalah pada penghinaan perjanjian yang merendahkan ini? Tolonglah!
Biarkan kami dan pedang-pedang kami yang akan me-mutuskan antara mereka dan kita."
"Tetapi ingatlah Umar! Aku adalah Nabi pembawa perdamaian. Bersabarlah. Allah yang Maha Rahman akan menjadikan musuh ini sebagai pertanda berkah yang agung bagi kita."
Setelah berkata demikian Rasulullah menanda -angani perjanjian dan menyerahkannya kepada Sahal. []

(Ibnu Hisyam)

Rasul Perdamaian (bagian 1)

DAKWAH Nabi Muhammad menimbulkan sikap permusuhan yang paling keras dari penduduk Mekah, satu sikap yang tidak pernah terlihat sebelumnya. Mereka menganggap agama baru yang diserukan Muhammad sebagai serangan langsung terhadap kesucian adat dan tradisi yang selama ini mereka hormati. Mereka juga tidak siap untuk menerima larangan-larangan yang dilakukan Islam untuk mengatur kebebasan tanpa batas yang sampai saat itu mereka nikmati seperti kebiasaan minum minuman keras, perzinaan dan perang saudara dan kebobrokan moral lainnya. Oleh karena itu penduduk Mekah bersiap-siap untuk mengangkat senjata melawan Rasulullah.
Meski demikian Rasulullah tetap bertahan dalam .mendakwahkan Islam, dengan energi yang tak kunjung padam. Nyawa beliau bahkan menjadi target akhi r rencana busuk kaum kafir Quraisy Beliau pun terpaksa
hijrah ke Madinah.
Tujuh tahun berlalu setelah beliau meninggalkan Mekah . Tuhan mengetahui betapa banyak aral dan rintangan yang harus dihadapi Rasulullah selama tahun-tahu n tersebut . Pedang, api , racun dan semua cara penyiksaan yang mungkin telah dipergunakan untuk melenyapkan agama baru dan para pengikutnya. Tetapi
para pasukan pembela kebenaran tanpa rasa gentar me-nyongsong setiap gelombang prahara yang menghadang tiada henti . Namun semua siksaan ini tidak membuat lupa sahabat-sahabat muhajirin untuk melupakan tanah ke-lahiran mereka. Sebenarnya hati kecil mereka merasakan kerinduan luar biasa akan kampung halaman.
Semenjak masu k Islam, Bilal menjadi sasaran penyiksaan berat yang dilakukan oleh majikannya. Dia berkali-kali dipaksa untuk berbaring di atas gurun pasir yang panas, dadanya ditindih dengan batu karang yang berat. Matahari semenanjung Arabia menghujani badan-nya dengan panas yang menyengat selama berjam-jam. Semua penyiksaan ini diulang-ulang dar i har i ke har i sampai akhirnya dia dimerdekakan oleh Abu Bakar.
Meski mendapat siksaan berat, Bilal masih sering menerawang ke arah langit Mekah dan berteriak, "Wahai
tanah kelahiranku! Mungkinkah aku menghabiskan satu malam saja dalam dekapan kehangatanmu?"
Karenanya, setelah tujuh tahun dalam pengasingan, tatkala Rasulullah mengungkapkan keinginannya untuk
mengunjungi Mekah dan menunaikan haji, gegap gempita kegembiraan terlihat di wajah para sahabatnya. Diikuti oleh 1.400 kaum muslim Rasulullah pergi menuju Mekah. Semuanya tanpa senjata dan mengenakan pakaian ihram. Rombongan haji Rasulullah berjalan dan terus berjalan sampai akhirnya sampai di Hudaibah, sebuah tempat di dekat Mekah. Di tempat ini, tabir kesedihan kembal i menyelimut i wajah-wajah ceria para jemaah haji.
Seorang utusa n dar i Mekah datan g menemu i Rasulullah dan berkata, "Kalian tidak diperkenankan melanjutkan perjalanan ke Mekah. Dan bila melanggar peringatan ini berarti kebinasaan bagi kaum muslimin.
Mekah adalah kota terlarang bagi kalian."
Setelah melalui perundingan alot, penduduk Mekah menyetujui untuk mendiskusikan syarat-syarat perjanjian
dan mereka mengirimkan seseorang yang bernama Sahal untuk melakukan perundingan dengan kaum muslimin.
Sahal datang dan duduk di dekat Rasulullah. Selama mengikut i perundingan, Sahal berkali-kali memegang-
megang jenggot Rasulullah dengan cara yang menghina. Perbuatannya membua t marah para sahabat , namun Rasulullah memerintahkan mereka untuk tetap tenang.
Setelah melewat i diskusi yang alot, akhirnya di -sepakati bahwa "Kaum muslimin tidak boleh masuk ke kota Mekah tahun ini...Tahun berikutnya, mereka boleh datang ke Mekah tetapi mereka harus meninggalkan kota
itu dalam tempo tiga hari. . Jika ada penduduk Mekah yang memasuki Madinah, kaum muslimin harus mengembali-kan orang tersebut. Namun bila ada penduduk Madinah yang memasuki Mekah, penduduk Mekah tidak ber-kewajiban mengembalikan orang tersebut.
Syarat-syarat perjanjian di atas tentu saja memancing kemarahan kaum muslimin, namun Rasulullah menenang-kan mereka dan memerintahkan mereka untuk menuliskan nota perjanjian tersebut. Ali ditunjuk untuk menulis. Saat ia hendak menulis, "Bismillah" di awal nota kesepakatan itu, Sahal memprotes, "Kami tidak mengetahui siapakah Tuhan kalian. Kalian harus membuang kalimat itu!"

(Ibnu Hisyam)

Nabi Memperlakukan Tahanan Perang

PERANG Badar berhasi l dimenangka n kaum muslimin, sejumlah pasukan musuh menjadi tawanan. Para tawanan ini termasuk orang-orang yang paling getol memusuhi . Nabi dan selama empat belas tahun selalu mengunti t langkah kaki Rasulullah dengan gangguan dan kekerasan yang tiada henti. Adat yang berlaku menyata-kan bahwa para tawanan ini harus dieksekusi atau dijadi-kan sebagai budak sahaya.
Tetapi Rasulullah memperlakukan mereka dengan cara yang berbeda sama sekali. la menekankan kepada para sahabatnya untuk memperlakukan mereka dengan perlakuan yang baik. Dan kaum muslimin pun mentaat i perintah pemimpin mereka dengan kerelaan hati .
"Semoga memberkahi orang-orang Madinah," kata salah seorang tawanan di kemudian hari, "Mereka mem-
biarkan kami menaiki kendaraan kami sedangkan mereka rela berjalan kaki. Mereka memberi makan kami roti dari gandum sedangkan mereka cukup dengan memaka n kurma." []

(The Prophet and Islam, A. Hakim Khan)

Air Mata Haru

NABI menghabiskan masa kecilnya di dalam peng-asuhan Bani Sa'd bersama salah satu perempuan dari
kabilah ini yang bernama Halimah. Kini pada masa-masaawal peperangan dengan orang-orang Mekah, Rasulullahmelakukan serangan terhadap Bani Sa'd. Mereka berhasilditaklukkan dan banyak dari mereka yang ditawan.
Salah seorang perempuan di antara mereka datang menghadap Rasulullah dan berkata, "Aku adalah putr i Halimah/ orang yang merawatmu dulu. Ini ada bekas luka di tanganku akibat pukulanmu saat aku menggendongmu di pangkuanku."
Rasulullah segera mengenali bekas lukanya. Air mata berlinang membasahi matanya. Dengan tutur kata yang
lembut beliau menawarkan kepada perempuan tersebut untu k memilih antara tetap bersama Rasulullah atau
pulang ke rumah dengan membawa hadiah yang besar. Perempuan itu memilih hadiah dan ia pun pulang ke
rumahnya. [ ]

(Dari: The Prophet and Islam, A. Hakim Khan)

Mereka Tidak Menyadari Apa yang Mereka Lakukan

PENDUDUK Mekah tidak bisa melupakan kekalahan mereka atas kaum muslimin saat perang Badar. Kekalahan itu serasa menikam jantung, laksana racun yang mem-bakar mereka dengan nafsu dendam.
Berkobarlah api dendam yang selama ini terpendam. Tiga ribu prajurit pilihan di bawah pimpinan Abu Sufyan
bergerak menuju Madinah. Sejumlah srikandi Arab, di bawah komando Hindun ikut pula dalam barisan. Mereka menyanyikan lagu-lagu peperangan, meneriakkan yel-yel dan mengancam akan mengusi r kaum muslimin dari rumah-rumah mereka. Ekspedisi ini merupakan ancaman yang besar bagi Islam yang masih berada pada masa-masa awal . Karena kekalahan yang telak bisa menyebabkan bencana dan bahkan melenyapkan sama sekali komunitas muslimin yang masih sedikit itu.
Rasulullah membahas ancaman ini dalam suatu majelis bersama para sahabat . Saat itu jumlah kaum muslimin hanya sedikit, tetapi mereka diilhami oleh semangat keimanan yang tak tergoyahkan akan kebenaran agama Islam. Karenanya mereka memutuskan untuk menghunus pedang guna membela keyakinan mereka. Rasulullah bersama seribu tentaranya keluar Madinah menyambut kedatangan pasukan Quraisy.
Belum lama mereka melakukan perjalanan, 'Abdullah bin Ubay, dedengkot kaum munafik, bersama sekitar tiga ratus pasukan melakukan desersi dan membelot dari pasukan muslim. Sehingga hanya dengan tujuh ratus or-ang tentara Rasulullah menghadapi musuh di dekat Jabal Uhud.
Pertempuran sengit pun terjadi, dengan kemenangan awal di tangan kaum muslimin. Pada mulanya tentara muslim meraih kemenangan. Mereka berhasil memukul mundur pasukan lawan. Barisan pasukan musu h bisa
ditembus. Pasukan lawan berhasil mereka paksa mundur . Bahkan beberapa orang di antara mereka melarikan diri dari medan tempur. Gejolak kemenangan awal ini mem-buat sebagian pasukan muslim melupakan tugas mereka, mereka meninggalkan pos-pos yang sudah ditentukan dan bergerak maju mendekat i lawan, hingga membual : se-bagian yang lain bingung.
Melihat kebingungan itu, pasukan musuh tidak me-nyia-nyiakan waktu. Dengan cepat mereka mengkonsoli-
dasikan kekuatan dan kembal i menyerang pasuka n muslim dari kaki bukit dengan kekuatan baru. Pasukan
muslim bertempur dengan keberanian luar biasa. Namun keberanian semata, tidak segera menghilangkan ke-
kacauan yang telah ditimbulkan oleh pasukan yang tidak disiplin. Sejumlah tokoh muslim gugur di medan perang. Jumlah pasukan yang terluka lebih besar lagi.
Rasulullah sendiri menderita luka parah, dahinya luka memar dan robek terkena lemparan batu, giginya retak,
topi bajanya terbenam dalam ke kepalanya. Beliau ter-geletak tak berdaya di sebuah pari t perlindungan. Ali
mengangkat tubuh beliau.
Segera setelah Rasulullah terjaga dari pingsan, beliau menyeka darah yang membasahi muka dan dengan me-
nengadah ke langit beliau memanjatkan doa:
"Ya Allah, tunjukkanlah kaumku ke jalan yang benar, karena mereka tidak menyadari apa yang mereka laku-
kan!" []

(Dari: Hirak Har, al-Bukhari, Ibnu Hisyam)

WAWANCARA KERJA LENGKAP

17 Pertanyaan Yang Sering Diajukan Dalam Wawancara Kerja

Pertanyaan 1: "Tolong jelaskan tentang diri Anda?"
Contoh jawaban yang paling baik:Saya pernah bekerja di bidang costumer service selama 3 tahun. Dalam pekerjaan terakhir, saya mempunyai tim yang berangotakan 5 orang, saya memiliki kemampuan komunikasi yang sangat baik dan kemampuan antarpersonal, dan itulah yang memungkinkan saya bekerja dengan orang banyak pada beragam tingkatan. Latar belakang saya meliputi pengalaman kerja di perushaan besar dan kecil. Keunggulan saya adalah kemampuan organisasi dan mengkoordinasikan proyek untuk memastikan agar tenggat waktu terpenuhi. Jawaban ini cukup baik karena menyajikan ringkasan yang baik tentang apa yang harus Anda tawarkan. Si pewawancara mengetahui berapa tahun pengalaman Anda, jenis perusahaan di mana Anda pernah bekerja, dan apa ang menjadi keunggulan Anda berkaiitan dengan pekerjaan itu. Jawaban itu juga menunjkkan kombinasi ang baik antara pengetahuan Anda, watak kepribadian dan kemampuan Anda.
Pertanyaan 2: "Mengapa Anda meninggalkan atau berniat meninggalkan pekerjaan terakhir Anda?"
Contoh jawaban yang paling baik:Perusahaan melakukan reoganisasi, dan bagian saya dihapus. Pekerjaan mulai membingungkan, dan itu tidaklah sesuatu yang mengejutkan. Saya menyukai pekerjaan dan orang-orang yang bekerja dengan saya, sehingga saya berharap hal ini jangan sampai mempengaruhi kami, tetapi sayangnya kami semua harus pergi. Saya akan mencari pekerjaan yang sama dengan pekerjaan itu. Inilah jawaban yang terbaik, karena memiliki nada yang mantap. Anda tidak mengharapakan situasi ini terjadi. Anda memberikan penjelasan yang sederhana namun dapat dimengerti, dengan keputusan Anda terhadap situasi yang tidak menguntungkan.
Pertanyaan 3: "Mengapa Anda ingin bekerja di perusahaan ini?"
Contoh jawaban yang paling baik: Saya melakukan riset dan memilih perusahaan-perusahaan yang paling membuat saya tertarik, dan perusahaan Anda berada di puncak daftar saya. Saya melakukan riset berdasarkan reputasi perusahaan, realibilitas produk, dan stabilitas industri. Demikian juga bagaimana karyawan-karyawan mereka memandang pekerjaan di perusahaan itu. Saya melakukan pekerjaan terbaik saya saat tujuan dan nilai-nilai saya selaras dengan tujuan dan nilai-nilai perusahaan itu. Saya tahu saya dapat menyesuaikan diri dengan budaya kerja perusahaan dan memilki banyak kontribusi. Inilah jawaban yang paling kuat,karena menggambarkan perencanaan dan kontrol dari diri Anda. Bukan sekedar "ada lowongan, saya melamar". Anda menunjukkan bahwa Anda mengetahui apa yang Anda inginkan dan bagaimana Anda mendapatkannya. Anda memilih perusahaan ini dengan melakukan suatu riset dan memeriksa bagaimana karyawan menilai perusahaan ini. Jawaban ini menunjukkan keyakinan pada keahlian dan kemampuan Anda untuk menyesuaikan diri dengan budaya kerja perusahaan tersebut. Namun perlu Anda ingat, Anda jangan terlalu berlebihan, karena bisa menimbulkan masalah besar seperti halnya kekurangan percaya diri.
Pertanyaan 4: "Apa tujuan yang hendak Anda capai?"
Contoh jawaban yang paling baik: Saya membagi tujuan ke dalam tujuan-tujuan jangka pendek, dengan tujuan jangka panjang. Saat ini saya mencari sebuah posisi dalam sebuah perusahaan dengan catatan prestasi yang solid. Saya ingin memberikan kontribusi pengalaman-pengalaman saya di bidang ini. Tujuan jangka panjang akan berpengaruh pada perjalanan karir yang ada di perusahaan ini. Singkatnya, saya ingin berkembang secara pasti dalam sebuah perusahaan. Jawaban ini sangat bisa diterima, karena ini adalah pertanyaan terbuka, tidak ada jawaban benar ataupun salah. Jawaban ini adalah terbaik karena ia terbuka bagi kesempatan-kesempatan yang memberikan ruangan bagi pertumbuhan, namun tidak membuat tujuan-tujuan Anda tampak tidak realistis, kaku, atau spesifik.
Pertanyaan 5: "Apa keunggulan Anda?"
Contoh jawaban yang paling baik:Keunggulan saya adalah perpaduan antara keahlian teknis dan kemampuan untuk bekerja dengan berbagai pelanggan. Saya memandang diri saya seorang ahli pengumpul data, tetapi apa yang membuat daya saing saya adalah kemampuan bekerja secara langsung dengan para pelanggan dan mencari akar persoalan. Saya mampu membagi masalah-masalah kompleks menjadi konsep dengan bahasa yang sederhana dan dapat dimengerti oleh para pelanggan. Ini adalah jawaban yang paling kuat, karena ia memberikan gambaran yang luas tentang apa yang Anda bawa untuk posisi tersebut. Bukan hanya yang disyaratkan keahlian teknis-tetapi juga nilai tambah dari kemampuan Anda untuk bekerja secara langsung dengan konsumen. Demikian juga kemampuan yang kuat untuk menyampaikan informasi teknis dalam konteks makna yang sederhanadalam ketatnya persaingan kerja. Sangatlah perlu bagi Anda memikirkan keunggulan Anda lebih dari sekedar memenuhi kualifikasi. Apalagi yang dapat Anda tawarkan yang tidak dapat ditawarkan oleh kandidat lain.
Pertanyaan 6: "Apa kelemahan terbesar Anda?"
Jawaban yang paling baik:Kelemahan bukan sesuatu yang saya risaukan. Saya tahu, saya dapat meningkatkan kesabaran saya di saat bekerja dengan orang-orang yang tidak memiliki kesamaan langkah dengan saya. Yang saya lakukan sekarang adalah dengan cara membantu rekan-rekan tim yang memiliki masalah. Saya justru dapat bergerak lebih maju daripada menjadi seorang yang frustasi dan akhirnya tidak mampu melakukan apa-apa. Di dalam jawaban ini terdapat penjelasan-penjelasan yang sangat jujur. Saat pemikiran ke depan tertuang dalam jawaban ini. Jawaban ini juga menunjukkan keinginan Anda untuk memperbaiki dan tindakan nyata apa yang Anda butuhkan untuk menyelesaikan persoalan dalam pekerjaan.
Pertanyaan 7: "Kapan Anda pernah merasa sangat termotivasi?"
Contoh jawaban yang paling baik: Tahun lalu saya terlibat dalam sebuah proyek yang sangat mengasyikkan. Saya ditugaskan untuk bekerja dalam sebuah tim, dan kami harus melakukan perombakan tenytang sebuah produk yang tidak mendapat sambutan hangat dari para konsumen. Saya harus bangun pagi-pagi sekali untuk memikirkan bagaimana cara yang kreatif untuk menyelesaikan masalah ini. Bagian terbesar yang paling istimewa adalah tim yang bekerja dengan saya. Tim ini dan pemecahan masalah yang kreatif adalah hal yang paling berkesan dalam memberikan motivasi kepada saya. Jawaban ini sangat kuat karena dipaparkan dengan spesifik. Anda dapat merasakan antusiasme, motivasi yang kuat dan kepuasan. Coba Anda pikirkan saat Anda terakhir kali merasa termotivasi. Nah, bagaimana rasanya
Pertanyaan 8: "Bagaimana Anda menggambarkan kepribadian Anda?"
Contoh jawaban yang baik:Saya orang yang memiliki motivasi yang tinggi jika menemui masalah dan tantangan yang menurut saya baru saya alami. Saya dapat "berlari" lebih kencang dari siapapun yang saya kenal. Saya memiliki catatan kesuksesan yang telah terbukti dalam hal menepati tenggat waktu. Sikap saya terhadapa pekerjaan adalah apapun akan ditempuh, agar pekerjaan selesai dengan baik. Siapapun orang yang pernah bekerjasama dengan saya dalam sebuah tim akan mengatakan bahwa saya orang sangat mendukung semangat tim. Jawaban ini sangat tepat. Anda harus selalu ingat, setiap anda menjelaskan keunggulan Anda, harus disertai dengan bukti yang nyata, dan tidak hanya mementingkan diri Anda sendiri. Anda berhasil karena ada orang lain yang mendukung Anda, Anda harus menyadari hal itu.
Pertanyaan 9: "Apakah Anda pernah dipecat?
Contoh jawaban yang baik: Salah seorang anggota tim kerja  melapor kepada saya,bahwa telah melakukan kesalahan yang fatal, sehingga menyebabkan kerugian perusahaan yang cukup besar. Karena saya adalah atasannya, kami berdua dipecat. Pada awalnya saya pikir ini tidak adil, namun saya menyadari bahwa orang itu berada di bawah pengawasan saya, dan saya bertanggung jawab penuh atas apa yang terjadi. Saya telah meletakkan kejadian itu di belakang, dan kini saya sedang melangkah ke depan untuk mencari peluang baru.
Jawaban yang singkat dan jujur, itulah yang dicari dari suatu perusahaan. Ini tentu bukan suatu kebanggaan, namun dari pihak pewawancara lebih cenderung menilai dari sisi kejujuran Anda, Anda menyadari dan berusaha untuk tetap maju. Perlu diketahui, perusahaan lebih sulit mencari karyawaan yang jujur, daripada karyawan yang pintar.
Pertanyaan 10: "Pengalaman apa yang Anda milki, sehingga Anda merasa memenuhi syarat untuk posisi ini?"
Contoh jawaban yang paling baik:Dengan pengalaman empat tahun bekerja di bidang elektronika, saya telah bekerja pada tipe-tipe sistem yang dibutuhkan bagi pekerjaan ini. Keunggulan saya adalah pada keahlian kepemimpinan yang saya miliki. Saya telah menjdi pengawas para teknisi dengan jadwal. Jika Anda bertanya pada para anggota tentang diri saya, mereka akan mengatakan saya selalu ada manakala mereka membutuhkan saya. Saya sangat mudah
Pertanyaan 11: "Mengapa begitu lama Anda baru menemukan sebuah pekerjaan?"
Contoh jawaban yang baik:Saya benar-benar tidak yakin. Saya punya latar belakang yang sangat bagus dengan pengalaman empat tahun di industri ini dan pengetahuan mengenai beberapa program perangkat lunak. Saya tahu bahwa di luar sana banyak yang memilki keahlian yang serupa, namun yang membedakan saya adalah kemampuan saya dalam menjalin hubungan dan bekerja dengan peleanggan dari beragam latar belakang. Dengan memilki kombinasi keahlian teknis dan keahlian bergaul dengan orang telah membantu saya untuk maju. Ini adalah jawaban yang paling jujur,jawaban ini juga mengelak dari pertanyaan dan fokus pada apa yang Anda tawarkan, khusunya apa yang membedakan diri Anda dari semua orang lain yang sedang melamar pekerjaan. Membicarkan tentang apa yang dapat Anda berikan pada pekerjaan ini, bukannya apa yang telah Anda tempuh untuk sampai pada tahap tes wawancara ini adalah sebuah teknik yang baik.
Pertanyaan 12: "Bagaimanakah atasan Anda sekarang atau mantan atasan Anda akan memberikan gambaran tentang kinerja Anda?"
Contoh jawaban yang baik: Saya dan atasan saya yang terakhir memiliki kepribadian yang berbeda, dan kadang hal itu menimbulkan konflik. Saya pikir dia akan mengatakan bahwa di atas semua itu adalah seorang profesional dalam hal berhubungan dengan pelanggan, baik internal maupun eksternal. Dia juga akan mengatakan kepada Anda bahwa saya menepati semua tenggat waktu yang diberikan. Jawaban ini cukup baik, karena menunjukkan adanya keahlian dalam berkomunikasi dan bergaul dengan orang lain.dan orang adalah sosok yang dapat diandalkan dan menepati tenggat waktu, yang mana itu adalah suatu hal yang baik, tapi akan lebih sempurna jika diperkuat dengan contoh.
Pertanyaan 13: "Apa yang Anda ketahui tentang perusahaan ini?"
Contoh jawaban yang baik:Saya telah melakukan riset atas perusahaan ini dan memeriksa tujuan yang Anda nyatakan beserta ide-idenya, nilai-nilai dan prinsip-prnsip yang Anda dukung.Saya sangat akrab dengan produk Anda dan perusahaan pesaing Anda. Saya meneliti latar belakang kedua orang pendiri perusahaan ini dan menyusuri jejak karirdan keberhasilan mereka. Saya tahu saya sangat tertarik untuk bergabung dengan perusahaan ini. Jawaban ini sangat baik, karena sekaligus mendemonstrasikan kemampuan yang dimiliki,bukan hanya melakukan riset atas perusahaan tersebut, namun menggali lebih dalam tentang pendirinya,pesaingnya,produk-produk mereka.
Pertanyaan 14:"Coba Anda gambarkan gaya kepemimpinan Anda?
Contoh jawaban yang baik:Jika Anda menanyakan kepada anggota tim kerja saya, mereka akan megatakan bahwa saya adalah orang yang akrab dan terbuka. Saya berusaha untuk selalu ada. Tujuan saya adalah untuk mengenali kekuatan orang-orang. Baru-baru ini saya mempromosikan seseorang anggota tim yang mulanya adalah seorang karyawan yang bermasalah,namum melalui suatu pelatihan secara pribadi dari saya, disertai dengan kemauan dari dirinya untuk menambah waktu, kini dia telah menjadi seorang yang berhasil.
Jawaban ini sangat kuat,karena memberikan contoh spesifik dan dukungan tidak langsung dari tim Anda. Ini merupakan teknik yang baik untuk digunakan manakala Anda sedang menjawab sebuah pertanyaan subjektif seperti pertanyaan ini. Hal ini juga menunjukkan adanya sebuah komitmen yang tulus pada anggota tim kerja dan membiarkan mereka tahu bahwa pekerjaaan mereka dihitung dalam gambaran yang lebih luas dan memberikan contoh spesifik tentang bagaimana Anda melakukannya.
Pertanyaan 15: "Bagi Anda hal apakah yang terpenting dalam suatu pekerjaan/perusahaan?"
Contoh jawaban yang baik:Hal yang pertama kali saya cari adalah kepuasan kerja. Maksud saya adalah sebuah perasaan bahwa pekerjaan saya ini faktanya adalah penting. Saya juga mencari pekerjaan yang memiliki peluang untuk berkembang. Saya ingin tumbuh bersama perusahaan itu. Saya ingin membina hubungan yang menyenangkan dengan teman-teman sekerja saya. Saya menghabiskan banyak waktu pada pekerjaan saya dan ingin hal itu menjadi sebuah pengalaman yang baik. Jawaban ini sangat kuat karena menawarkan nilai-nilai lebih luas. Kepuasan kerja menduduki nilai bagi hampir semua pelamar kerja. Karena Anda menerangkan arti kepuasan kerja bagi Anda, pewawancara memiliki ide yang lebih baiktentang minat karir Anda. Bacalah pada iklan lowongan kerja dan tentukanlah nilai-nilai apa yang terpenting di perusahaan tersebut. Ini adalah peluang untuk membuat pewawancara mengetahui bahwa Anda akan "merasa cocok" dan menikmati pekerjaan di sana.
Pertanyaan 17: "Berapa gaji yang Anda minta untuk posisi ini?"
Contoh jawaban yang paling baik:Saya benar-benar membutuhkan informasi yang lebih dalam lagi tentang pekerjaan ini dan tunjangan-tunjangan lainnya sebelum saya bisa menyatakan angkanya. Saya rasa setelah saya mendapatkan fakta-faktanya kita dapat membuat kesepakatan soal angkanya. Bisakah Anda memberitahukan saya rentang gaji yang telah Anda anggarkan untuk posisi ini?
Ini adalah inti pertanyaan dari semua wawancara kerja. Pertanyaan ini bisa meluluskan Anda atau menggagalkan Anda. Jawaban ini adalah yang paling kuat karena Anda menunda menjawab perbincangan soal gaji itu hingga tersedia fakta-fakta yang lebih banyak. Pihak pemberi kerja pun juga diberi beban dengan menanyakan berapa rentang yang telah dianggarkan. Sebelum Anda memiliki pemahaman yang menyeluruh mengenai tanggung jawab pekerjaan tersebut dan rentang gaji yang yang dibuat bagi seseorang yang memiliki latar belakang pengalaman seperti Anda, Anda tidak bisa memberikan angka yang akurat kepada pewawancara.

Inilah 8 Pertanyaan Tersulit dalam Wawancara Kerja Disertai Cara Menjawabnya

1. Aktivitas selama menganggur?
Sebaiknya Anda memang memiliki aktivitas untuk mengisi kekosongan setelah lulus kuliah atau selama mencari pekerjaan baru. Jawablah dengan daftar kegiatan Anda yang positif, karena pewawancara akan memaklumi bahwa mencari pekerjaan tidaklah mudah dan menghargai usaha Anda untuk tetap sibuk selama menganggur.
2. Masalah terakhir yang Anda selesaikan?
Pertanyaan kreatif ini bertujuan mengenali kemampuan Anda dalam menghadapi dan menyelesaikan sebuah masalah. Dengan mengingat masalah apa yang Anda temui di pekerjaan sebelumnya dan bagaimana cara menyelesaikannya, pewawancara bisa membayangkan seperti apa karakter profesional Anda.
3. Kekurangan/ kelemahan diri Anda?
"Orang yang tidak bisa menjawab pertanyaan ini justru terlihat aneh dan mengkhawatirkan," ujar Jim Link, direktur manajer perusahaan sumber daya Randstad seperti dilansir Forbes. Tidak ada yang salah dengan menyebutkan kelemahan diri, namun buatlah kelemahan tersebut sebagai sesuatu yang positif.
4. Risiko terbesar yang pernah Anda ambil?
"Beberapa posisi membutuhkan kemampuan untuk bangkit kembali dengan cepat saat mengalami kegagalan," ujar Dale Austin, direktur pelayanan karir di Hope College, Michigan. Hal ini penting bagi pewawancara untuk melihat seberapa beranikah diri Anda untuk menempuh sebuah jalan yang baru untuk sukses atau mengatasi kegagalan.
5. Kritik yang pernah didapat & bagaimana menghadapinya?
Biasanya, pewawancara akan menanyakan hal ini dengan meminta Anda untuk bercerita. Pertanyaan ini dimaksudkan untuk mengetahui kritik yang pernah menempel pada diri Anda dan upaya apa saja yang telah dilakukan untuk memperbaikinya. Ceritakan secara jujur, namun tunjukkan bagaimana Anda menghadapi kritikan tersebut dan menjadikannya 'pecutan' untuk lebih baik lagi.
6. Bagaimana menghadapi tim kerja yang tidak sejalan?
Lynne Sarikas, direktur pengembangan karir di Universitas Bisnis Northeastern, menjelaskan bahwa pertanyaan ini harus dijawab dengan seberapa fleksibel karakter Anda menghadapi tim kerja yang selalu berbeda pendapat. Saat pewawancara memahami apa yang terjadi dengan tim kerja sebelumnya, ia juga akan membayangkan pengalaman seperti apa yang telah Anda dapat dari 'ketidakcocokan ide' tersebut.
7. Ceritakan tentang diri Anda
Kebanyakan orang akan mengulang apa yang telah dituliskan di CV, tapi bukan itu yang ingin didengar pewawancara. Jana Fallon, ahli rekrut pegawai mengatakan, "Jawab dengan singkat sekitar satu sampai dua menit. Ceritakan tentang pendidikan, pengalaman kerja dan fokus di aktivitas pekerjaan terakhir. Tetap di jalur profesional, jangan sampai melewatkan poin-poin plus diri Anda."
8. Kenapa kami harus merekrut Anda?
Pertanyaan yang paling sering diajukan, namun paling tidak siap dijawab oleh tiap pelamar. Pelajarilah posisi yang Anda lamar, dan apa kelebihan diri Anda yang bisa ditawarkan. Perekrut juga ingin tahu keahlian dan pengetahuan yang Anda miliki terkait dengan posisi yang ditawarkan.

 semoga berhasil..............

Meluruskan Keyakinan yang Salah

GERHANA matahari total adalah peristiwa yang luar biasa bag! masyarakat Arab. Cahaya matahar i lama-
kelamaan menghilang, suasana pun menjadi gelap. Meski-pu n terjadi pada siang hari, bintang-bintang bisa terlihat di langit . Kegemparan terjadi di kalangan masyarakat Madinah, belum ada seorang pun yang pernah melihat fenomena alam ini, ataupun pernah mendengar tentang hal itu dari nenek moyang mereka. Baik kaum muslimin maupu n non-muslim saling berbisik satu sama lain, "Malapetaka besar pasti sedang menimpa dunia hari ini, manusia yang paling dicintai Tuhan meninggal dunia hari ini . Kalau tidak mengapa Tuhan harus mendatangkan peristiwa luar biasa ini hari ini?"
Seorang lelaki bergabung ke tengah kerumunan dan berkata, "Tidak tahukah kalian bahwa putra Muhammad
yang bernama Ibrahim meninggal dunia hari ini?"
Kerumunan orang-orang itu hampir sepakat berseru,"Itu dia sebabnya!"
Akhirnya mereka sampai pada kesimpulan bahwa gerhana luar biasa itu terjadi karena meninggalnya Ibrahim putra Rasulullah. Bahkan salah seorang dar i mereka menyatakan, "Aku tahu sejak awal bahwa Muhammad bukan orang biasa. Seandainya beliau bukan Nabi , niscaya Allah tidak akan menyebabkan peristiwa aneh ini saat ia kehilangan putra kesayangannya."
Sahabat-sahabatnya menyatakan bahwa mereka juga menyadar i akan hal itu. Singkat cerita desas-desus itu
sampai ke Rasulullah. []
Bangsa Arab saat itu masih memiliki banyak musuh. Di antara musuh-musuh yang masih kafir itu merasakan
kegelisahan yang mendalam dengan adanya gerhana yang mengancam dan mereka c:enderung untuk mencari
perlindungan kepada Rasulullah. Seandainya Rasulullah mau memanfaatkan ketakutan mereka, niscaya beliau
akan meraih kemenangan dan kekuasaan dan bahkan mungkin musuh-musuh bebuyutan beliau sekalipun, akan tunduk dan memeluk Islam. Namun Nabi tidak pernah berpikir untuk memanfaatkan kesempatan dalam ke-sempitan itu. Sebaliknya beliau merasa sangat prihatin melihat khurafat dan tahayul yang diyakim oleh umatnya.
Beliau pun menghampiri kerumunan orang di jalan maupun di pasar. Mereka segera memenuhi panggilan
beliau. Terdengar beliau bersabda, "Matahari dan bulan adalah tanda-tanda kebesaran Allah, dengan perintah-Nya keduanya terbit dan terbenam. Gerhana tidak terjadi untuk menandakan kelahiran dan kematian seseorang. Bila kalian melihat peristiwa seperti ini, ingatlah Allah dan berdoalah kepada-Nya." []

(Dari: Hirak Har, al-Bukhari)

Seorang Penyair Ditipu

PENYAIR kondang Thufail bin 'Ammar yang juga ketua suku Aus yang terkenal bijak berkunjung ke Mekah. Para pembesar suku di Mekah pun pergi menyambutnya di gerbang kota. Buru-buru para pembesar Mekah ber-pesan kepada Thufail untuk tidak menemui Nabi , karena ucapan beliau telah menyebabkan kekacauan hebat dan menyebarkan kejahatan di kawasan sekitar Mekah.
Mendengar pesan itu, Thufail berusaha menghindar dari Muhammad. Di manapun a da kemungkinan bertemu dengan beliau, Thufail selalu menghindari dengan me-maling mata dan menutup telinga.
Suatu hari Nabi tengah shalat di depan Ka'bah, dan samar-sanaar Thufail mendengar beberapa perkataan
Muhammad. Kata-kata yang peinuh inspirasi menenibus relung hatinya. Penyair itu pun mengikuti Muhammad sampai ke rumahnya dan memintanya untuk membaca-kan beberapa ayat al-Qur'an. Nabi pun memenuhi per-mintaan itu. Karena tertarik dengan ayat-ayat yang dibacakan, Thufail akhirnya memeluk Islam. []

(Dari: The Prophet and Islam A. Hakim Khan)

Bila Tukang Sihir Tersihir

SALAH seorang dari Yaman bernama Zamad, suatu ketika mengunjungi kota Mekah. Sesampainya di Mekah ia meyakinkan beberapa tokoh Qurasiy, bila dirinya mampu melenyapkan roh jahat yang bersemayam dalam diri dari Muhammad. Tentu saja ini membuat pembesar Quraisy dibuat gembira bukan kepalang, karena mereka menganggap bahwa kekuatan kata-kata Muhammad, tidak lain karena beliau dibantu oleh jin yang bersemayam dalam diri beliau.
Zamad pun pergi menemui Nabi dan mengungkap-kan keinginannya untuk "mengobati beliau."
Setelah mendengar penjelasan Zamad, Nabi men-jawab, "Dengarkan perkataanku dulu!"
Kemudian Nabi membacakan beberapa ayat al-Qur'an. Zamad merasa gemetar dan meminta Muhammad agar mengulangi beberapa ayat al-Qur'an. Pada saat Nabi membacakan untuk yang ketiga kali, perubahan Zamad benar-benar sempurna dan penuh kerelaan ia berseru, "Aku pernah mendengar mantra para juru ramal dan ahli sihir. Juga aku telah mendengar para penyair membaca puisi . Narnun perkataan Muhammad tidak mirip sama sekali. Kata-katanya lebih menyerupai suara dari kedalam-an yang tak terperikan." []

(Dari: The Prophet and Islam A. Hakim Khan)

Dia Juga Terpesona

DEMI menghentikan dakwah Nabi, para pembesar Quraisy mengutus 'Utbah, seorang pembesar suku yang kaya ray a, untuk menemui Muhammad.
Setelah bertemu Nabi , ia pu n berkata , "Waha i keponakanku! Jika engkau menginginkan harta benda
dengan dakwahmu itu, katakan saja dan kami akan mem-berikan harta apa pun yang engkau minta. Jika engkau menginginka n kedudukan , kami akan memberimu kedudukan yang terhormat di antara kami. Jika engkau ingin menjadi raja kami pun akan mengangkatmu menjadi raja. Jika engkau menghendaki perempuan cantik molek, pilihlah gadis yang menurutmu paling cantik di antara warga Quraisy."
Nabi menjawab, "Aku tidak menginginkan apa pu n dar i yang engkau tawarkan. Aku mendapa t risalah samawi dan aku harus menyampaikannya pada kalian."
Kemudian Nabi membacakan beberapa ayat al-Qur'an kepada 'Utbah. Terpengaruh oleh keindahan dan ke-
agungan al-Qur'an, 'Utbah kembali menemui para pem-besar Quraisy yang mengutusnya dan berkata, "Aku baru saja mendengar kalimat Muhammad, bukan syair, bukan pula sihir atau ramalan. Aku menyarankan kalian agar membiarkannya."
Para pembesar Quraisy sangat kecewa dan ber -komentar, "Bangsat! Dia rupanya malah terkena sihir Muhammad." [ ]

(Dari: The Prophet and Islam A. Hakim Khan)

Matahari di Tangan Kananku dan Rembulan di Tangan Kiriku

UNTUK melenyapkan cahaya Islam, kaum kafir Qurais y bersepakat untuk membunu h Muhammad . Namun sebelum mengambil langkah lebih jauh, mereka menemui pelindungnya, Abu Thalib.
Kepada Abu Thalib mereka katakan, "Keponakan and a mencaci-maki sesembahan dan agama kami ; menyebut kami orang-orang jahil. Dia juga bilang bila nenek moyang kami adalah orang-orang sesat. Sekarang hukum dia atau biar kami yang melakukan. Kami tidak bisa bersabar lagi menghadapinya."
Abu Thalib menyadar i situas i gawa t yang di -hadapinya. la memanggil Muhammad dan menceritakan semua yang dikatakan oleh para pembesar Quraisy. la berkata, "Jagalah dirimu dan diriku dan jangan mem-bebaniku dengan sesuatu yang melebihi kemampuanku."
Denga n tenang dan teguh hati , Muhammad menjawab,. "Walaupun mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan rembulan di tangan kiriku agar aku berpaling dari risalah yang aku bawa, aku tidak akan berhent i sampai Allah mengantarkan aku pada kejayaan Islam atau aku binasa karenanya."
Tersentuh oleh nada tinggi dari jawaban keponakan tersayangnya, Abu Thalib menjawab, "Lakukan apa yang ingin kamu lakukan! Demi Tuhan Pemelihara Ka'bah, aku tidak akan menyerahkanmu pada mereka." []

(Dari: The Prophet and Islam A. Hakim Khan)

Pidato Pertama dalam Islam

MULA-MULA orang sembunyi-sembunyi untu k masuk Islam. Karena bila hal itu dilakukan secara terbuka,
hampir pasti hanya akan mengundang dari orang-orang kafir. Saat jumlah kaum muslimin mencapai tiga puluh
sembilan orang, Abu Bakar minta izin pada Nabi untuk berdakwah secara terbuka. Mulanya Nabi tidak setuju, namu n akhirnya beliau tidak mamp u lagi menolak antusiasme Abu Bakar.
Diikuti beberapa orang sahabat, Nabi pergi menuju Ka'bah. Abu Bakar memulai khotbah, inilah khotbah pertama dalam sejarah Islam. Hari itu Hamzah memeluk Islam, selang tiga hari kemudian disusul Umar.
Sebaliknya kaum kafir menyambut khotbah dengan penyiksaan atas kaum muslim. Abu Bakar adalah orang yang mempunyai kedudukan tinggi di Mekah; sukunya termasuk suku yang disegani, meskipun demikian tanpa ampun ia dipukul i oleh orang kafir. Seluruh tubuhnya berlumuran darah hingga nyaris tidak bisa dikenali lagi. Ia benar-benar tak sadarkan diri. []

(Hikayat-i Sahabah)

Allahu Akbar

DI AWAL Islam, para pengikut Nabi seringkal i menerima siksaan lantaran meninggalkan kepercayaan pagan warisan moyang mereka. Salah seorang yang ter-kenal paling kejam menyiksa kaum muslimin adalah Umar bin Khattab. Postur tubuhnya tinggi dan kuat, ia terkenal sangat pemberani . Umar tidak lain adalah teror bagi siapa pu n yang mengenalnya.
Tapi penyiksaan terbukti tidak mampu menggoyah-kan iman kaum muslimin. Para pemeluk baru terus ber-tambah jumlahnya. Perkembangan ini kian membuat Umar geram. Karenanya ia bermaksud menyingkirkan Muhammad dengan tangannya sendiri. Dengan pedang terhunus , Umar berjalan menuju bukit Shafa yang saat itu merupakan tempat tinggal Rasulullah.
Di tengah perjalanan ke Shafa, ia berpapasan dengan Na'im. Lelaki ini dengan kasar menyarankan agar sebelum membunuh orang lain, lebih baik Umar mengurus adiknya, Fatimah dan suaminya Sayid yang telah memeluk Islam.
Terkoyak harga diri Umar, demi mendengar berita itu. Dengan amarah memuncak, ia bergegas menuju ke rumah adik perempuannya. Saat itu Fatimah pada tengah membaca al-Qur'an. Melihat kedatangan Umar dengan wajah merah padam, ia cepat-cepat ia menyembunyikan lembaran yang ia baca. Namun Umar telah mendengar beberapa ayat dari luar rumah dan menanyakan apa yang baru saja dibaca adiknya. Dengan gemetar Fatimah men-jawab, "Aku tidak membaca apa pun."
Sayid datang menghampiri . Umar membentak,"Bedebah! Kalian berdua telah mengingkari kepercayaan nenek moyang kalian. Sekarang rasakan akibatnya!"
Selesai berkata demikian, Umar memukul Sayid bertubi-tubi . Fatimah berusaha menolong suaminya; namun ia juga terkena pukulan Umar sehingga darahnya mengucur deras. Fatimah semakin bertambah putus asa dan dengan tegas ia menyatakan bahwa ia tidak akan meninggalkan agama barunya meskipun Umar mem-bunuhnya.
Uma r tersentak mendenga r pernyataan saudar a perempuannya itu. Kemarahannya mulai mereda saat melihat darah yang mengucur dar i luka adiknya . Ia menghampiri adiknya dan memintanya untuk membaca-kan beberapa ayat al-Qur'an untuknya. Fatimah meng-ambil lembaran-lembaran al-Qur'an lalu menyerahkannya ke tangan Umar. Segera setelah itu, mata Umar tertuju pada ayat: "Segala sesuatu yang ada di bumi dan langit bertasbih memuji Allah, zat yang Maha Kuasa lagi Maha mengetahui."
Keindahan gaya bahasa, irama yang merd u dan pengaruh yang mendalam dar i ayat tersebut meng -gerakkan kesadarannya. Saat ia sampai pada ayat: "Maka berimanlah kepada Allah dan rasul-Nyal" secara tidak sadar Umar berseru, "Sungguh aku beriman kepada Allah dan rasul-Nya."
Dengan pedang yang masih terhunus di tangan dan dengan darah adiknya yang menoda i tubuh , Uma r bergegas menuju ke tempat Rasulullah. Saat itu Rasulullah tengah berada dalam majelis bersama beberapa sahabat . Umar bergegas mempercepat langkah. Kedatangan Umar dengan pedang terhunus membuat sebagian sahabat merasa ketakutan. Tetapi Rasulullah dengan tenang menyapa Umar, "Ada apa Umar? Apa yang bisa aku bantu?"
"Wahai Rasulullah! Terimalah aku! Aku datang untuk memeluk Islam," jawab Umar.
"Allahu Akbar!" seru Rasulullah mendengar per-nyataan Umar. Seluruh yang hadir di majelis itu pun turut berseru, "Allah Akbar!"
Bukit Shafa gemuruh oleh suara takbir dan semenjak peristiwa itu, lahirlah pekik 'Allah Akbar ' sebagai per-
nyataan kegembiraan. Pekik ini mempertahankan, mem-beri semangat dan memberi inspirasi bagi jutaan kaum muslimin pada masa-masa sulit atau penindasan, kapan dan di tempat manapun. [ ]

(Dari: asy-Syibli)

Dia yang Datang untuk Membunuh

SUATU saat Nabi saw terlelap sendirian di bawah pohon. Da'sur, seorang penunggang kuda yang sangat memusuhi Nabi datang menghampiri.
Terganggu oleh suara berisik, Rasulullah membuka kedua matanya dan melihat sebilah pedang mengkilap terayun-ayun tepat di atas kepala beliau.
"Siapa yang akan melindungimu sekarang?" bentak Da^sur kasar dan mengejek.
"Allah," jawab Nabi tenang dan penuh percaya diri . Da'sur tersentak oleh jawaban Nabi yang sangat tenang, tubuhnya bergetar hingga membuat pedangnya lepas dari tangan. 
Nabi bangkit, lalu memungut pedang itu seraya ber-tanya, "Siapa yang akan melindungimu sekarang?"
"Tidak ada," jawab ksatria musyrik itu.
"Ada," kata Nabi, "Allah juga yang akan melindungi-mu. Ambil kembali pedangmu, dan pergi dari sini!" 
Sang ksatria yang keheranan itu beranjak pergi , namun belum berselang lama ia melangkah ia kembali ke arah Nabi dan menyatakan masuk Islam. [] 

(Dari: The Prophet and Islam, A Hakim Khan)

Hadiah Pertama untuk Seorang Pembaharu

BERITA tentang turunnya wahy u kepada Nabi Muhammad saw sampai ke telinga Waraqah, penganut Kristen kondang yang sudah lanjut usia. Mendengar berita tersebut ia berkata kepada Nabi , "Ini adalah namus (wahyu) agung yang dulu pernah diterima Nabi Musa as. Andai saja aku masih muda dan segar-bugar. Andai aku masih hidup di saat-saat engkau terusir dari kaummu!"
"Apaka h mereka akan mengusirku? " tanya Rasulullah.
"Benar," jawab Waraqah, dan buru-buru menambah "Tidak ada Nabi yang datang dengan membawa ajaran seperti yang kau bawa kecuali dimusuhi." []

(Dari: The Prophet and Islam, A. Hakim Khan)

Minggu, 13 Oktober 2013

Kebanggaan ala Gurun Pasir

PEMBERANI, ramah dan tentu saja egois; begitulah bila orang Arab mengekspresikan kebanggaan asal-usul nenek moyang dan status sosial mereka di zaman jahiliah.
Amr bin Hindun dan Amr bin Kulsum, dua orang yang kebetulan sama nama ini juga sama-sama ksatria tersohor. Mereka juga sama-sama amat chauvinist dengan garis keturunan dari pihak ibu. 
Suatu hari, Amr bin Hindun bertanya kepada bebe-rapa orang koleganya. Katanya, "Menurut kalian siapa di antara penduduk di kawasan ini yang akan merasa sangat malu bila ibunya aku suruh melayaniku?" 
"Tentu saja kami tidak mengetahui seorang pun yang anda maksud kecuali Amr bin Kulsum. Dia adalah anak
si Laila putr i Muhalhil , keponakan Kulaib. Suaminya bernama Kulsum. Dari perkawinan itu lahirlah si Amr,"  jawab para sahabatnya.
Ucapan para koleganya itu terus mengiang di telinga Bin Hindun. la berpikir keras, mencari cara bagaimana
mempermalukan Bin Kulsum. 
Selang beberapa hari kemudian, ia mengundang Bin Kulsum ke tempatnya. Ia juga meminta Laila agar dapat menemui Hindun. Ditemani sang ibu, Bin Kulsum me-menuhi undangan tersebut, bahkan dengan pengawalan
serombongan pasuka n berkuda kabilah Taghlib. Ia berhenti di tepi sungai Efrat, sembari menunggu ihwal kedatangannya sampai ke telinga Bin Hindun. 
Bin Hindun memiliki sebuah tenda di perbatasan Hira dan Efrat. Saat itu ia tengah mengundang para sesepuh
kabilahnya dalam jamuan makan yang mewah. Ke-mewahan acara itu terlihat dari hidangan telah menunggu
para tamu sejak di pintu masuk. 
Bin Hindun dan Bin Kulsum serta beberapa tetua kabilah duduk dalam tenda khusus. Khusus untuk sang
ibu, Bin Hindun mendirikan tenda yang berdampingan dengan tendanya. Di tenda itu Bin Hindun menjamu Laila alias ibu Bin Kulsum.
Sebelum pesta dimulai, Bin Hindun berpesan pada ibunya, "Nant i kalau para tamu sudah menyikat habis semua hidangan, segera suruh pergi para pelayan. Bila aku menginginkan pencuci mulut, bilang pada si Laila agar ia melayaniku." 
Hindun pun menurut i pesan anak lelakinya itu dan begitu terdengar suara anaknya meminta pencuci mulut, ia berkata kepada Laila, "Ambilkan makanan buatku!"
"Siapa pun yang menginginkan makanan bisa meng-ambi l sendiri," jawab Laila setengah tersinggung. "Bawakan, cepat!" Hindun membalas dengan nada paksa.
"Bangsat ! Apa-apaan ini! Oh...warga Taghlib, kemari!" teriak Laila marah. Bin Kulsum mendengar teriakan ibunya. Wajahnya tampak memerah menahan marah. Sayang, centeng yang dibawanya terlampau mabuk.
Dilihatnya pedang Bin Hindun tergantung di dinding tenda; tidak ada pedang lain di tempat itu. Segera ia melompat bangkit dari tempat duduknya, . lalu mengambil dan menghunus pedang itu dari sarungnya. Kemudian menebaskannya tepat di leher Bin Hindun; hingga membuatnya tewas seketika. Sejenak kemudian ia berlari keluar tenda dan berteriak, "Wahai suku Taghlib! Lihatlah! Mereka merampas unta dan kuda Bin Hindun , menahan para wanit a dan menguasa i semenanjung Arab." [] 

(Dari: Women in The Ayyam al-'Arab, Use Lichtenstadter)